Susunan Acara Silaturrahmi Akbar Batra 2009

Susunan Acara Silaturrahmi Akbar Batra 2009:

Jam 10.00 s/d Jam 10.30

  1. Pembukaan Acara

  2. Pembacaan Kalam Ilahi dibawakan Oleh Sdr Habibilah

  3. Pembacaan Saritilawah dibawakan Oleh Sdri Ratih

  4. Menyanyikan Hymne HMI Oleh Semua Undangan

Jam 10.30 s/d 12.00

  1. Acara Sambutan Oleh:

    1. Ketua Panitia

    2. Undangan

    3. Undangan

    4. Undangan

    5. Undangan

    6. Undangan

Jam 12.00 s/d 14.00

  1. Isoma & hiburan orgen tunggal

Jam 14.00 s/d 15.00

  1. Aklamasi Yayasan INSAN HARMONI

Jam 15.00 s/d 17.00

  1. Acara Santai ( Bersendaguraw)

Jam 17.00

  1. Penutupan Acara

Susunan Kepanitiaan Silaturrahmi Akbar 2009

Ketua : Awang

Sekretaris :

  1. Edi Yoga Syaputra

  2. Yusak Adi Nugroho

Bendahara :

  1. Vivin Ningsih

  2. Deby M

Pembawa Acara :

  1. Nana

Dokumentasi & Publikasi :

  1. Deby M.

  2. Asep C.

Perlengkapan :

  1. Mustofa A.

  2. Asep C.

Koordinator Acara :

  1. Eko

  2. Dayat

  3. Rahmat Hidayat

  4. Yusak Adi N.

  5. M. Ibnu Adam

  6. Hendi Budiman

  7. Eka Hermawan A

Konsumsi :

  1. Wiwik Tri H.

Penerima Tamu :

  1. Habibilah

  2. Siti Magfirothun

  3. Vivin Ningsih

  4. Ratih W.

  5. Isti R

Silaturrahmi Akbar 2009

Logo Silaturrahmi Akbar 2009Mengundang rekan-rekan semua yang tergabung dalam HMI AA YKPN untuk berkumpul dalam acara ” Silaturahmi Akbar Batra Komisariat AA YKPN Yogyakarta ” pada :

Hari / Tanggal : Minggu / 9 Agustus 2009

Tempat : Anjungan Riau – TMII

Pintu Masuk :

Utama ( samping masjid At Tiin ) karena ada diskon tiket untuk AA YKPN yang datang cuma bayar 5.000 per kepala kec anak dibawah 3 tahun gratis.

Pukul : 10.30 – selesai

Acara :

1. Silaturahmi antar anggota

2. Peresmian Yayasan Insan Harmoni

3.Lain -lain

Kontribusi Rp 25.000 per orang , bisa di transfer ke BCA KCP Otista , Rek no 553.0268553, atas nama Adriansyah.

Mohon Konfirmasinya bila berkenan hadir.

Untuk keterangan lebih lanjut harap hub panitia :

Akhiryun Badrus ( Awang ‘ 90 ) – 081514123870

Rahmad ‘02 – 081392768376

Deby ‘98 – 08121334857

PENJAJAHAN SEBUAH TRANSFER

Ditulis oleh:  Agus Sri Muladi
Tanggal: 28 Maret 2009

Globalisasi menjadi padanan Pasar Terbuka, untuk manjabarkan centeng-reneng Ekonomi Liberal Dunia yang Kapitalistik. Globalisasi merupakan proses yang bertujuan memaksukkan “UNSUR” ke ruang lingkup Dunia (Global) dengan tanpa batas. “UNSUR” disini pada akhirnya menjadi sebuah permasalahan yang amat kompleks dan pelik, kompleksitas “UNSUR” meliputi keruwetan urusan Budaya, Politik, Seni, Gaya Hidup, Humanisme, Kepercayaan, Hubungan antar Negara dan tentu saja Ekonomi.

Globalisasi dalam wacana kekinian dikonotasikan oleh dunia ketiga dengan imperalisme baru, imperalisme yang bersaudara sedarah sekandungan dengan imperalisme abad 15 sampai 20 masehi yang lalu. Eksploitasi, penindasan dan diskriminasi menjadi image dari tangan-tangan globalisasi yang tidak nampak oleh mata analisa biasa.

Ada sebagain komponen dunia ketiga melihat sudut pandang lain mengenai globalisasi. Globalisasi adalah cara penyebaran kesejahteraan dan kemudahan hidup, karena dalam globalisasi segala sesuatu menyangkut hajat hidup, kebutuhan dasar dan kebutuhan tambahan manusia tersebar luas keseluruh lapisan.

Titik permasalahan yang coba diurai adalah masalah pergulatan sebuah bangsa untuk mendapatkan manfaat positif dari Globalisasi. Setidak-tidaknya untuk menaikan derajad gengsi suatu bangsa, karena pada dasarnya globalisasi tidak ada manfaat dan tidak menambah nilai gengsi saat sebuah bangsa hanya dijadikan pasar dari prodak industi multi nasional atau sumber alamnya yang diperah tanpa melibatkannya dalam hal penguasaan teknologi, pengelolaan dan penguasaan asset atau sumber dayanya.

JANGAN SAMPAI SEJARAH TERULANG

Bangsa ini tidak sedang mengigau saat mengesahkan regulasi yang berakibat masuknya modal asing secara bebas untuk menguasai segala hal yang mereka anggap sebagai komuditi yang mendatangkan laba. Bila digambarkan kedatangan VOC ke bumi nusantara pada abad 15 yang lalu bertujuan sama dengan itu yaitu mencari komuditi yang laku dipasaran eropa untuk diperjual belikan.

Kita tidak mungkin mundur mengulang sejarah dengan menutup pintu investasi asing yang sudah terlanjur terbuka. Tugas kita saat ini adalah mentrasfer ilmu-ilmu yang dibawa oleh para pemodal asing itu, disamping itu Negara juga harus memiliki kesadaran yang sama. Kita dijajah belanda selama 350 tahun dan kita hanya bisa melanjutkan produk hukum pidana yang kental dengan kolunialisme (yang saat ini kita kenal dengan KUHP), adapun kemampuan-kemampuan Belanda yang lain tidak mampu kita ambil dan lanjutkan, misalkan manajemen industri gula, pertanian karet, sawit, teh, pengelolaan tata ruang kota, trasportasi perkereta apian dan lain sebagainya.

Misalkan kita sepakat bahwa perusahaan multi nasional saat ini adalah kolonialis baru, jangan pernah kita gunakan cara-cara yang dilakukan oleh Sultan Agung, Sultan Banten, P. Diponegoro, Perlawanan Aceh dan Pahlawan-pahlawan lainnya yang pada akhirnya gagal melawan Belanda dan hanya menjadi pahlawa untuk dirinya sendiri. Minimal strategi yang kita gunakan adalah yang dilakukan oleh Raja Kesultanan Yogyakarta, kooperatif terhadap Belanda dan menunggu momentum yang tepat, walau itu ratusan tahun lamanya untuk kemudian mendukung musuh Belanda yang sepadan dengannya. Raja Kasunanan Surakarta kooperatif tapi dia tidak tahu momentum hingga akhirnya menjadi sebuah ironi.

Contoh kegagalan yang nampak mata akibat perlawanan terhadap Belanda adalah apa yang menimpa Sultan Agung dan Sultan Banten. Apa yang telah menimpa Sultan Agung masih relatif beruntung, kerajaan yang dia bangun didaerah Pleret Bantul Yogyakarta kini tinggal legenda, tapi ada orang yang mau melanjutkan buah pikir dan kerajaannya walau dengan cara harus hijrah karena takut dengan Belanda bila dianggap sebagai kerajaan ekstablisenya Sultan Agung. Yang terjadi dengan Sultan Banten sangatlah menyakitkan, kerajaannya dihapus dari muka bumi oleh Belanda, sampai saat ini tidak mampu bangkit lagi. Eksitensi Banten akhirnya diakui lagi paska pemekaran provinsi Jawa Barat menjadi dua propinsi tapi tentu saja dalam bentuk Banten yang lain.

NILAI MINIMAL YANG HARUS KITA DAPATKAN

Yang kita butuhkan dari para penjajah sebelum mereka meinggalkan kita adalah budaya etos kerja yang mereka kembangkan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Karena hasil dari budaya etos kerja adalah terciptanya manajemen efektif efisien, baik dilingkungan pemerintahan maupun dilingkungan perusahaan modern. Etos kerja merupakan proses pemahaman masyarakat terhadap penambahan kwalitas hidup dengan tercukupinya kebutuhan materi, karena dasar dari etos kerja adalah bagaimana menciptakan sebuah nilai tambah dari sebuah barang.

Bangsa Indonesia paham betul bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak akan tercapai tanpa ada pemberdayaan masyarakatnya, tapi sebuah ironi kemudian ketika 60 tahun merdeka rezim-rezim yang berkuasa hanya mampu mengajar tapi tak berdaya mendidik bangsanya. Lalu apa korelasinya antara budaya kerja dengan kemajuan sebuah Bangsa, apakah dua hal ini sudah menjadi paket prasyarat untuk menjadi Bangsa yang maju. Tidak ada Bangsa yang maju tanpa Etos Kerja yang tinggi menjadi premis awal dari permasalahan kemajuan sebuah Bangsa.

Asumsi yang dikedepankan adalah proses akulturasi dua kebiasaan yang bisa dikatakan pertolak belakang. Para Pemodal asing masuk ke Indonesia lewat penanaman investasi di pasar Indonesia, Para pemodal yang merupakan orang asing ini mempunyai kebiasaan yang berbeda tentunya dengan bangsa Indonesia. Etos Kerja yang terbina sedari kecil dalam didikan komunitas masyarakat industri menjadikan kebiasaan bekerja dengan motivasi tinggi sudah menjadi akar kehidupan pada diri mereka. Akar budaya kerja Bangsa Indonesia adalah budaya kerja pertanian dan budaya kerja priyayi. Dua kebiasaan yang berbeda ini dipertemukan dan lebih diintensifkan dialektikanya dengan proses globalisasi.

Bangsa Jepang yang kalah perangpun kemudian mampu menjadi bangsa “Penjajah” kembali hanya dalam kurun waktu kurang lebih 40 tahun. Bukankah mereka hanya mengandalkan Sumber Daya Manusianya. Betapa mereka sudah ribuan kilo meter dihadapan kita menyangkut kemajuan dalam hal teknologi dan ilmu pengetahuan. Lagi – lagi adalah Sumber Daya Manusia dengan etos kerja tinggi yang mereka andalkan tidak yang lainnya. Fokus utama yang mereka ciptakan untuk menjadi bangsa yang maju adalah menjadikan manusia – manusia yang menjadi warga negaranya adalah orang – orang yang punya etos kerja tinggi, ketrampilan dan kemampuan berkompetisi.

Bangsa ini harus siap menghadapi Globalisasi dengan tepat dan benar, pengusaha kecil dan orang – orang yang terpinggirkan oleh kultur harus dilindungi. Pemerintah harus punya kepentingan untuk melindungi pengusaha – pengusah kecil. Melindungi pengusaha kecil dan orang – orang yang terpinggirkan bukan berarti bangsa kita anti globalisasi tapi inilah tugas dan fungsi dari pemerintah yaitu melindungi warganya dari keadaan yang dapat membuat mereka menderita karena kesempatan dalam memperoleh kemampuan ekonomi dicengram oleh Raksasa yang ganas yaitu perusahaan Multi Nasional.

Perlindungan dan proteksi adalah starategi pertahanan dalam melawan globalisasi, karena seperti telah diutarakan diatas bangsa ini akan menemukan kegagalan bila menghadapi globalisasi secara frontal. Globalisasi akan menjadi sebuah mesin pencabut akar – akar kebudayaan dan kemanusiaan bila kita tidak siap menghadapinya.

MUNGKINKAH INI SEBUAH TRANSFER

Bila kita lihat dari sudut transfer menajeman organisasi dan budaya kerja, prifatisasi bisa dijadikan pendekatan untuk itu. Guna menciptakan perusahaan yang lebih efektif dan efisien dibutuhkan tipe pekerja yang mempunyai etos kerja tinggi, kemudian dengan menejemen efektif efisien akan mampu menciptakan kondisi yang stabil dalam oraganisasi yang ujung-ujungnya adalah kemampuan bersaing dipercaturan global.

Dengan asumsi privatisasi akan menjadi lembaga akulturasi budaya dan kepemimpinan dalam oraganisasi perusahaan modern. Ini akan menjadi berkah bagi bangsa indonesia untuk jangka yang panjang, walau secara praktik belum ada pembenarannya tapi melihat keadaan buruk ini harus kita rubah maka segala konsekuensi harus siap kita hadapi. Kita membutuhkan tradisi dan kebiasaan baru untuk bisa terus bertahan dalam percaturan dunia dan privatisasi adalah jalan untuk menciptakan alkuturasi budaya kerja demi kemajuan bangsa Indonesia.

Kegiatan bisnis perusahaan Multi Nasional menyentuh para pekerja pada tingkatan yang paling bawah, sistem manajeman pada Bank yang telah dikuasai oleh perusahaan Multi nasional pasti secara langsung maupun tidak akan mempengaruhi dan menyentuh UKM yang diberikan pinjaman melewati Bank tersebut.

TIDAK ADA YANG GRATIS DARI PENJAJAH

Tapi dalam perspektif lain dalam sejarahnya tidak ada sebuah penjajahan yang dengan sadar mau mentrasfer kemapanan peradabannya kepada sebuah komunal yang mereka jajah. Dimungkinkan juga dalam kasus yang terpapar didepan tadi, bahwa tidak mungkin kita mendapatkan ilmu para menir – menir kapitalis tadi. Mereka punya kepentingan terhadap ilmu yang mereka kuasai, dan ada kecenderungan ilmu itu tidak akan diberikan pada orang – orang yang bertolak belakang dengan kepentingan perusahaan Multi Nasional tadi.

Karena bangsa-bangsa didunia ini berusaha menuju sebuah tatanan masyarakat industri, maka bangsa ini membutuhkan kebiasaan etor kerja itu tidak sekedar pengetahuan teoritik mengenai industrialisasi. Bangsa ini telah gagal mentrasfer manajemen perusahaan gula yang pada waktu itu dikuasai menir-menir Belanda, kita tahu bahwa saat perusahaan gula itu masih dikuasai VOC produk gula Hindia Belanda adalah nomor satu didunia. Pengelolaan kota Betawi adalah kegagalan kita sebagai bangsa, dulu waktu masih dikuasai VOC, Betawi adalah kota yang ramah lingkungan, saat ini pasti anda tidak percaya bahwa kita lebih jahil dari pada VOC dalam urusan lingkungan.

Kita semua harus membayar mahal karena penjajahan, nilai pembayaran kita tidak hanya berupa harga materi tapi sudah merembes dan menembus batas-batas keaslian kita. Kita harus membayarnya dengan kerelaan kita untuk berubah, merubah kebiasaan budaya kita. Kita merasa menjadi mahluk asing karena semua itu, harga transfer penjajahan yang kita inginkan adalah mengasingkan kita. Ini semua dikarenakan keinginan kita untuk menjadi bangsa yang telah menjajah kita.

Posted in Uncategorized. Tags: , . Leave a Comment »

GERAK

Ditulis Oleh: srimuladi_agus [at] yahoo [dot] com

Yogyakarta,  Jum’at Kliwon 13 Maret 2009

Sekitar awal abad 19 yang lalu kata Pergerakan menjadi simbul semangat yang berkobar didada para pemuda terpelajar di Nusantara ini. Mereka menggunakan kata Pergerakan sebagai jargon cita-cita masa depan dunia diluar mereka.

Dari sudut tata bahasa Pergerakan berasal dari kata dasar gerak, yang artinya melakukan sebuah tindakan untuk menempati ruang lain dari ruang yang semula ia tempati. Gerak adalah sebuah kata kerja yang menggambarkan tindakan “BENDA” karena adanya faktor lain yang menggerakkannya. “BENDA” dalam bergerak membutuhkan sebuah energi yang berfungsi sebagai pendorong untuk memenuhi ruangan baru dengan berbagai macam gaya yang ia gunakan. Gerakan bisa mengubah “BENDA” menjadi “BENDA BARU” yang lebih bermanfaat. Manusia adalah sebuah “BENDA”, dan tercipta dalam takdirnya untuk bergerak. Pergerakan tidaklah menjadi perkara yang mudah bila menyangkut sinergisitas antar subsistem dan sistem yang merupakan kesatuan dari “BENDA” itu. Sudah menjadi keharusan kemudian bila pergerakan dilakukan oleh “ BENDA” yang menginginkan pertumbuhan, karena pertumbuhan adalah gerak yang akan menempati ruangan baru.

Lalu gerakan mana yang harus dilakukan dengan kesadaran kita sebagai manusia, banyak hal sebenarnya gerakan yang harus kita lakukan sebagai manusia. Tidak hanya gerakan dalam artian tubuh kita atau anggota badan kita yang bergerak tapi mulai dari wawasan keilmuan kita, pengetahuan akan alam, rahasia ke – Tuhan – an sampai dengan hal – hal ghaib yang berdimensi lain dengan kita. Tidak mungkin manusia stagnan dalam segala hal atau menciptakan kondisi yang stagnan untuk hal tertentu dan mengembangkan hal lain. Pergerakan dalam berkembang haruslah seiring sejalan dalam segala hal, bila kita mengkebiri hal tertentu untuk membenarkan perkembangan dalam satu sisi saja tunggu kehancuran apa – apa yang telah terencanakan oleh kita semua itu.

Kita bisa menyaksikan Imperalium Romawi, Bizantium Persi, Konstatinopel, Mesir kuno sampai generasi Islam. Mereka tinggal kenangan yang mengagumkan dan menjadikan pertanyaan yang besar. Kenapa mereka bisa musnah dan tidak eksis sampai abad 20 ini ?, sebenarnya fonemena apa dibalik kehancuran peradaban itu semua. Abad 20 diwakili peradaban Kapitalis yang tentu saja dipelopori oleh Negara – Negara G 8, dalam hal Imtek tidak dipungkiri pada abad ini telah mencatat sejarah yang dasyat. Benarkah kehancuran Imperalium pada abad – abad yang lalu itu karena ketidak sanggupan lagi sebuah Komunitas untuk terus bergerak, atau memang ruang gerak yang tersedia telah habis karena keterbatasan ruang. Pertanyaan berikutnya adalah kehancuran peradaban tadi apa dikarenakan ausnya atau habisnya masa pakai dari peralatan yang mengerakkan tubuh dari peradaban tadi ?. alat – alat pergerakan tadi misalnya adalah penganekaragaman kesempatan masyarakat, atau pembagian kerja yang tidak efektif lagi dalam menampung pertumbuhan penduduk yang bertambah dengan pesat.

Abad Kapitalisme dimungkinkan untuk tidak kehilangan ruang bergerak. Globalisasi yang merupakan pembukaan ruangan baru bagi akses pasar walau menyakitkan untuk Negara – Negara satelit tapi ini merupakan konsekuensi dari teori hisapan peradaban yang lebih kuat dan mapan. Dalam globalisasi kepentingan Bangsa tidaklah menjadi penting kecuali hanya sebagai alat propaganda semata, peran yang lebih utama sebenarnya adalah kepentingan dari pembukaan pasar baru dan penguasaan sumber – sumber daya alam untuk memungkinkan sebagai energi dalam bergerak dan ruangan yang tersedia untuk menjual komuditi. Karena industri – industri yang tumbuh bersama kapitalisme itu mebutuhkan pangsa pasar dan tidak mungkin ia berhenti berproduksi, berhenti produksi sama dengan mati. Yang menjadi masalah lagi adalah kestabilan produksi dalam jangka panjang tidaklah baik untuk pertumbuhan, saat industri – industri tadi harus terus berproduksi tapi saat itu pula pangsa pasar tidak tercipta maka akan menjadikan permasalahan yang rumit. Ketimpangan kesejahteraan antara Negara maju dengan Negara ke – 3 amatlah lebar, dan secara teori kayaknya tidak mungkin terkejar oleh Negara Negara ke – 3 tadi dalam hal kesejahteraan. Tapi tidak ada yang tidak mungkin didalam urusan keduniaan ini, pengamat – pengamat perekonomian dunia memprediksikan Cina akan menyalip AS pada tahun 2020 nanti, kenapa Cina bisa menyalip AS dalam kesejahteraan dan kemakmuran ini.

Penguasaan asset terutama yang akan menghasilan sumber daya bahan pokok amatlah penting dalam percaturan arus globalisasi saat ini. Perusahaan trasnasionalis yang kepemilikan perusahaan itu tidak jelas menancapkan pondasi – pondasi perekonomiannya agar Negara – Negara satelit bergantung kepada investasi dan roda perusahaannya. Secara makro kepemilikan sebuah asset atau pengelolaan perusahaan amatlah penting untuk sebuah bangsa, pengkajiaan akan kepemilikan sebuah perusahaan dan pengelolaannya amatlah dibutuhkan untuk kestabilan dan berdiri diatas kaki sendiri. Bukanlah ketakutan yang berlebihan bila kita mengkawatirkan keberadaan perusahaan asing yang kemudian bisa mengkontrol kepentingan nasional kita saat ketergantungan kita pada perusahaan itu sudahlah amat sangat. Ketersediaan lapangan kerja dan investasi untuk menciptakan pendapatan amatlah penting untuk sebuah bangsa.

Peradaban yang terus bergerak akan menjadi penerus keberadaannya dimuka bumi, asalkan pergerakan itu mampu dipertanggung jawabkan keberlanjutannya, dan itu yang saat ini diabaikan oleh bankir-bankir amerika yang memicu krisis. Dan jangan lupa kita tercipta karena adanya proses pergerakan, tidak ada pergerakan maka tidak pernah akan ada kita. Walau sekarang ada bayi tabung itu kasus lain, dan amerika sekarang membuat juga bayi tabung dengan anggaran 7.000 milyd US $ atau kalau dirupiyahkan sekitar 77.000 trilyun rupaih dengan kurs 11.000 ribu. Untuk menyelamatkan keberlanjutan negaranya. Bayi tabung memang sebuah ironi.

Posted in Uncategorized. Tags: , . Leave a Comment »

Tasyakkuran Rumah Baru

Kemarin, kamis 20 Maret 2008 Panitia Renovasi Komisariat HMI AA YKPN mengadakan acara tasyakuran. Komisariat telah selesai direnovasi setelah beberapa waktu yang lalu rusak berat dilanda gempa Jogja.

Rumah baru disini berarti baru selesai direnovasi. Jadi Sekretariatnya masih di tempat yang sam, yakni Klitren Lor GK III/ 30. Ok gitu aja. Selamat menempuh hidup baru dengan semangat baru dan rumah yang baru.

Posted in Uncategorized. Tags: , , . Leave a Comment »

PINDAH……..PINDAH……..

Siang tadi kebetulan mampir ke komisariat, ternyata lagi pada beresin perpus. semua buku dimasukin dalam dus besar, katanya komisariatnya mau pindah. hah…….!pindah? sedih juga dipikir-pikir tapi mau apa lagi. informasi lebih lanjut, silahkan tanya langsung sama pak imam.

Posted in Uncategorized. Tags: , . 6 Comments »

IKAHMI AAYKPN Yogyakarta On Weekend

Hari sabtu dan minggu, 9-10 juni 2007 kemaren temen-temen IKAHMI (Ikatan Alumni HMI) komisariat AA YKPN yogyakarta mengadakan workshop focus and home group diwisma hasturenggo II kaliurang. acara yang yang target pesertanya adalah pengurus HMI AA YKPN 2006/2007 ini bertujuan untuk membedah berbagai masalah yang ada saat ini. peserta diarahkan untuk menemukan sendiri masalah yang mereka hadapi sekaligus mencari solusinya sendiri. panitia hanya sekedar menjadi fasilitor untuk memicu berbagai potensi yang dimilik oleh pengurus dalam memecahkan masalahnya sendiri. ingat kan? “setiap manusia itu tidakakan diberi bebean kecuali ia mampu untuk memikulnya”. artinya berbagai masalah yang dihadapi oleh seseorang pasti bisa diatasi oleh orang tersebut. hanya saja untuk menemukan solusi akan masalah yang dihadapinya, tiap orang memiliki cara yang berbeda-beda. lihat saja banyak orang menemukan solusi setelah ia bercerita pada teman dekatnya. orang seperti ini hanya membutuhkan pendengar yang baik untuk mengungkapkan berbagai masalahnya sedangkan solusi dari temannya tidak pernah ia pertimbangkan. mungkin seperti ini yang disebut sebagai “mencari pembenaran terhadap solusi yang ia putuskan”.

Satu hal yang perlu saya garis bawahi dalam berbagai solusi yang di tawarkan oleh peserta untuk mengatasi masalahnya sendiri. budaya instan. budaya ini hanya berorientasi pada hasil, sedangkan prosesnya sebisa mungkin sangat minim. seperti halnya kuliah, tanpa harus belajar dengan amat keras tetapi mengharapkan nilai yang bagus. agenda kegiatan yang menyenagkan dan tidak membosankan, kegiatan yang menarik dan mengikuti selera pasar, dan solusi lainnya. bisakah solusi-solusi ini menciptakan kader ulil albab yang dicita-citakan?

Namun saya tidak menafikan kalau disana ada juga solusi brilian, seperti solusi Latihan kader yang disesuaikan dengan studi yang diambil oleh kader, jadi tidak IAIN oriented. tetapi solusi yang seperti ini kalah dominan daripada yang saya sebutkan sebelumnya. yah….!

lagi serius diskusi diganggu

Syari’at Islam. Siapkah Kita Menyambutnya?

kadang saya berpikir, andaikata amerika tidak mengusik kehidupan kita lagi. dan semua komponen negara ini setuju untuk merubah indonesia menjadi negara islam. apa yang akan saya lakukan setelah semua itu terjadi? mungkin saya akan bahagia begitu pula anda, dan kemudian tidak berapa lama lagi saya akan bingung, apa yang harus saya lakukan?. Read the rest of this entry »

Posted in Uncategorized. Tags: , , . 4 Comments »