S O L I T U D E

Sketsa

Gemericik air mengalir tenang perlahan, bening. Riapan rambut yang tergurai tersapu sepoi semayup angin yang berdesis, terus membuka setiap pori-pori tubuh, dingin, menyejukkan. Kicau burung yang bertengger di dahan-dahan bersahutan, bercicit, merdu. Melantunkan irama keheningan alam yang mengitari di iringi gesekan dedaunan bak biola yang semakin menyayat. Inilah dendangan alam saat menarikan kesunyian. Hawa yang menenangkan akan tetapi di sisi lain terdapat irama yang sangat menakutkan, menggidikkan bulu kuduk setiap nafas yang bernyawa. Tak kurang kiranya penyair Faizi L Kaelan dalam goresan dindingnya menyatakan,” dalam hal melukai, kesunyian itu lebih tajam daripada belati”.

Kesunyian selalu hadir pada hati yang merindu, dalam tiap desah nafas penuh dengan aroma yang menenangkan, menyenangkan, merindukan, memabukkan sekaligus juga menakutkan. Dua hal dikhotomis seakan menyatu, menjalin jurang diantara ada dan tiada. Ada dalam satu hal tapi juga bisa juga meniadakan hal lainnya, tapi begitu kesadaran menuai dirinya, keduanya bisa dikatakan ada. Dialektika yang menurut idealisme Hegel terdapat dalam pikiran yang terus menerus mencari sintesa dalam konklusinya. Secara personalitas dimungkinkan hal ini akan terus dapat bergelora, setiap sisi personal manusia akan berdialektika dalam dirinya, kemudian mencari konklusi untuk dijadikan pondasi atau titik pijak dirinya untuk melangkah. Struktur rancang bangunan keyakinan yang secara personal (subyektivisme) juga harus berdialektika dengan realitas kemabukan personal manusia yang lainnya (intersubyektif). Anggur kesunyian adalah satu noumena, akan tetapi interpretasi relasional tiap personal terhadap vibrasi fenomena akan menjadikan kemabukan yang berbeda, karena manusia dalam keadaan berbeda interpretasi (Qs 51; 8). Read the rest of this entry »

MODUS VIVENDI ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Selayang Pandang

The situation in the twentieth century-not to mention intervening centuries- has been marked by similar and even more drastic changes. The political structure has been very fluid. Monarchistic institutions hava given way to the democratic, and democratic institutions in turn have been beset by fascistic and communistic ones. Industrial economies have rapidly out stripped agrarian and commercial ones. International war not once but twice has tested men’s political and economic ideologies. Reinforced by remarkable development of science, the intellectual turn over of ideas has never been so great. Consequently people today, as twenty-five hundred years ago, are raising the age-old questions about how to educate their children for the dynamic social conditions in which they live. If their answers are confused and faltering, there should be no occasion for surprise, uncertain times give rise to uncertain answers. (Brubacher,1950; 2).

Fenomena tersebut adalah gambaran realitas obyektif-aktual yang berlangsung selama berabad-abad, dan hingga kini dampak realitas tersebut masih dapat dirasakan. Berbagai arketipe-arketipe untuk membahas tentang kadar filsafati tentang pendidikan telah banyak bermunculan. Thomas Hidya Tjaya mengatakan bahwa tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengajarkan kepada peserta didik berbagai kebenaran yang telah ditemukan oleh manusia, baik yang saintifik, filosofis maupun religius (Tjaya,2004; 35). Read the rest of this entry »

IDEALITAS KONSEP FILSAFAT PENDIDIKAN

Konsepsi Filsafat Pendidikan

Karena kehidupan di alam semesta

Terangkat dari kekuatan diri,

Hidup menjadi sebanding kekuatan ini!

Sekiranya setitik air terserapi sadar diri

Kadarnya yang tiada harga

Akan meningkat seringkatan mutiara!

‘Pabila rerumputan menemukan daya tumbuh

dalam dirinya

tangkainya kan mengembang seluas taman.

Hanya karena bumi mewujud kukuh dan tangguh

Tertawan bulan dalam kitarannya nan abadi

Adapun surya ditakdirkan lebih jaya dalam daya

Dan bumi terpukau terpikat sorotan matanya!

Sekiranya saja hidup mampu menimba daya

Dari lubuk dirinya sendiri

Alunan hayat ‘kan meluas melaut samudera!

Puisi Muhammad Iqbal tersebut merupakan pencapaian tingkat kesadaran tertinggi, yang paling sadar akan realitasnya (Syaidain,1986; 27). Konsep ini lebih menggambarkan persoalan individu untuk dapat merubah seluruh daya hidupnya dengan usaha. Read the rest of this entry »

FLEKSIBILITAS DAN KEADILAN BANK SYARIAH

Istilah bank syariah pada masa Rasulullah SAW belum dikenal, namun secara individu beberapa produk bank syariah seperti jual beli, sewa menyewa, gadai, mudharobah titipan, pengelolaan zakat, infaq, dan shadaqoh telah dipraktikkan oleh Rasulullah. Praktik ekonomi syariah selanjutnya dikembangkan oleh para sahabat, seperti penggunaan cek, pinjam meminjam harta, asuransi, dan lain sebagainya. Mulai tahun 1956, secara formal bank syariah berdiri sebagai institusi lembaga keuangan syariah hingga saat ini. Fungsi bank syariah tidak berbeda dengan bank konvensional, yaitu sebagai lembaga intermedier antara nasabah yang memiliki dana dengan nasabah yang membutuhkan dana. Kedua bank tersebut melakukan kegiatan penarikan dana (financing) dan penyaluran dana serta jasa lainnya.

Jenis produk penarikan dana bank syariah dan bank konvensional memiliki kemiripan nama, seperti giro, tabungan dan deposito, namun kontrak yang digunakan berbeda. Bank konvensional menggunakan penghargaan dalam bentuk bunga bagi penabung, sedangkan dalam bank syariah menggunakan akad kerjasama bisnis (bagi hasil) dan titipan (bonus). Read the rest of this entry »

DARI GLOBALISASI MENUJU TATANAN SISTEM NEOLIBERALISME

Secara pemikiran, globalisasi adalah perentangan cara berpikir seluas bola dunia. Seluruh dunia, diberbagai belahan dunia manapun akan terjangkau karena kemajuan tekhnolgi dan informasi. Pemanfaatan tekhnologi dan informasi kian mengglobal. Seiring dengan aktivitas perdagangan dunia yang tidak lagi menemukan hambatan dari batas suatu negara. Dimana industri otomotif raksasa Jepang bisa merelokasikan pabrik otomotifnya di China, India, dan juga Indonesia. Kemudian, globalisasi menemukan momentumnya ketika kemajuan informasi khususnya Internet dan Telepon menjadi kebutuhan yang kian hari kian diminati, diakses oleh khalayak umum tanpa memandang usia. Kehadiran globalisasi dalam sendi tatanan kehidupan manusia khususnya di bidang ekonomi akan cenderung mengarah ke “dunia baru”, tatanan dunia dengan sistem neo-liberalisme.

Perusahaan – perusahaan multinasional yang sebelumnya sudah besar dan mapan melakukan penggabungan atau merger upaya memperluas ekspansi pasar yang sifatnya lebih mendunia. Sebut saja ”Exxon” sebelum menggandeng “Mobil” merupakan operator eksplorasi dan distribusi minyak terbesar di Amerika Utara yang pada awal tahun 1900-an berhasil memonopoli bisnis perminyakan di Amerika Serikat (AS). Karena hak memonopoli pasar dilarang dalam undang – undang maka kepemilikan dari Exxon sendiri dipecah – pecah, tetapi tetap saja mempunyai pangsa pasar yang cukup luas. Di industri otomotif, Toyota Jepang menggandeng perusahaan AS yang memproduksi mobil yaitu Limosin, berkolaborasi merakit mobil dengan merek “Lexus” mobil mewah teruntuk kalangan atas. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.