Sketsa
Gemericik air mengalir tenang perlahan, bening. Riapan rambut yang tergurai tersapu sepoi semayup angin yang berdesis, terus membuka setiap pori-pori tubuh, dingin, menyejukkan. Kicau burung yang bertengger di dahan-dahan bersahutan, bercicit, merdu. Melantunkan irama keheningan alam yang mengitari di iringi gesekan dedaunan bak biola yang semakin menyayat. Inilah dendangan alam saat menarikan kesunyian. Hawa yang menenangkan akan tetapi di sisi lain terdapat irama yang sangat menakutkan, menggidikkan bulu kuduk setiap nafas yang bernyawa. Tak kurang kiranya penyair Faizi L Kaelan dalam goresan dindingnya menyatakan,” dalam hal melukai, kesunyian itu lebih tajam daripada belati”.
Kesunyian selalu hadir pada hati yang merindu, dalam tiap desah nafas penuh dengan aroma yang menenangkan, menyenangkan, merindukan, memabukkan sekaligus juga menakutkan. Dua hal dikhotomis seakan menyatu, menjalin jurang diantara ada dan tiada. Ada dalam satu hal tapi juga bisa juga meniadakan hal lainnya, tapi begitu kesadaran menuai dirinya, keduanya bisa dikatakan ada. Dialektika yang menurut idealisme Hegel terdapat dalam pikiran yang terus menerus mencari sintesa dalam konklusinya. Secara personalitas dimungkinkan hal ini akan terus dapat bergelora, setiap sisi personal manusia akan berdialektika dalam dirinya, kemudian mencari konklusi untuk dijadikan pondasi atau titik pijak dirinya untuk melangkah. Struktur rancang bangunan keyakinan yang secara personal (subyektivisme) juga harus berdialektika dengan realitas kemabukan personal manusia yang lainnya (intersubyektif). Anggur kesunyian adalah satu noumena, akan tetapi interpretasi relasional tiap personal terhadap vibrasi fenomena akan menjadikan kemabukan yang berbeda, karena manusia dalam keadaan berbeda interpretasi (Qs 51; 8). Read the rest of this entry »