Selayang Pandang
The situation in the twentieth century-not to mention intervening centuries- has been marked by similar and even more drastic changes. The political structure has been very fluid. Monarchistic institutions hava given way to the democratic, and democratic institutions in turn have been beset by fascistic and communistic ones. Industrial economies have rapidly out stripped agrarian and commercial ones. International war not once but twice has tested men’s political and economic ideologies. Reinforced by remarkable development of science, the intellectual turn over of ideas has never been so great. Consequently people today, as twenty-five hundred years ago, are raising the age-old questions about how to educate their children for the dynamic social conditions in which they live. If their answers are confused and faltering, there should be no occasion for surprise, uncertain times give rise to uncertain answers. (Brubacher,1950; 2).
Fenomena tersebut adalah gambaran realitas obyektif-aktual yang berlangsung selama berabad-abad, dan hingga kini dampak realitas tersebut masih dapat dirasakan. Berbagai arketipe-arketipe untuk membahas tentang kadar filsafati tentang pendidikan telah banyak bermunculan. Thomas Hidya Tjaya mengatakan bahwa tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengajarkan kepada peserta didik berbagai kebenaran yang telah ditemukan oleh manusia, baik yang saintifik, filosofis maupun religius (Tjaya,2004; 35).
Sistem aliran filsafat pendidikan dari masa ke masa juga juga mulai diperkenalkan untuk dijadikan sebagai term of reference bagi analisis jawaban atas problema-problema pendidikan. Akan tetapi persoalannya adalah bagaimana dalam struktur teoritik tersebut juga dapat di aplikasikan ke ranah yang praktis. The conflict between theory and practice should really be capable of some solution (Brubacher,1950; 14).
Gerakan idealisme yang dimotori Plato, Berkeley, Hegel, berpendirian kenyataan itu terdiri dari atau tersusun atas substansi sebagaimana gagasan-gagasan (ide-ide) spirit. Alam fisik ini tergantung dari jiwa universal atau Tuhan, yang berarti pula bahwa alam adalah ekspresi dari jiwa tersebut (Barnadib,1988; 22). Dalam pandangan ini Brubacher mengatakan, if such a theory of knowledge be sound, some idealists hava gone a step further to argue that reality itself must be idea-istic. What the more exact nature of reality as idea happens to be, is answered by a variety of idealism. The one wich has most found its way into educational philosophy is that of absolute idealism. According the view, the heart of reality is to be found in thought or reason. Reason is absolute, in fact it is the absolute. Being absolute, it is also one, monistic. In it, everything is interrelated, all contradictions reconcile. Furthermore, the complete cause of any single occurance involves the whole of reality. The cosmos, then, is a great thought process, and the absolute is God Thingking (Brubacher,1950; 326-327).
Gerakan idealisme tidak berarti tanpa kritikan. Realisme, merupakan “anak” dari naturalisme berpandangan bahwa …..these objects have a reality independent of mental phenomena (Brubacher,1950; 330), obyek atau dunia luar itu adalah nyata pada dirinya, realisme memandang bahwa kenyataan itu berbeda dengan jiwa yang mengetahui obyek atau dunia luar tersebut. Kenyataan tidak sepenuhnya bergantung dari jiwa yang mengetahui atau tidak langsung mengenai sesuatu. Orang dapat memiliki pengetahuan yang kurang tepat mengenai benda atau sesuatu hal yang sesungguhnya, teetapi sebaliknya dapat memiliki gambaran yang tepat mengenai apa yang nampak. Maka dari itu pengamatan, penelitian dan penarikan kesimpulan mengenai hasil-hasilnya perlu agar dapat diperoleh gambaran yang tepat secara langsung atau tidak langsung mengenai sesuatu (Barnadib,1988; 23).
Kedua hal tersebut hanyalah dua diantara sekian banyak aliran-aliran yang ada di dalam filsafat pendidikan. Persoalannya adalah bagaimanakah sesungguhnya mendapatkan suatu pemahaman yang komperehensif yang merupakan titik temu dalam aliran-aliran tersebut. Ranah tersebut kiranya mempertemukan kerangka teoritik dengan praktisnya.
Mempertemukan Aliran-Aliran Filsafat
Dalam kerangka teoritis apakah sebenarnya yang menjadi landasan akan arti penting teoritis sejauh mana mempunyai kegunaan praktis. Eksistenisialisme memberikan gambaran bahwa tujuan pendidikan bukan agar anak didik dibantu mempelajari bagaimana menanggulangi masalah-masalah eksistensial mereka. Para pendidik eksistensialis akan mengukur hasil pendidikan bukan semata-mata pada apa yang telah dipelajari dan diketahui oleh peserta didik, akan tetapi yang lebih penting adalah apa yang mampu menreka ketahui dan alami. Para pendidik eksistensialisme menolak pendidikan dengan sistem indoktrinisasi (Rapar,1996;83).
Setelah pengarahan eksistensialisme tersebut, sejauhmana pemikiran mereka juga mempunyai landasan pragmatis. Pragmatisme memandang realita sebagai suatu proses dalam waktu, yang berarti orang yang mengetahui mempunyai peranan untuk menciptakan atau mengembangkan hal-hal yang diketahui. Ini berarti bahwa tindakan yang dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan tersebut dapat menjadi unsure penentu mengembangkan pengetahuan itu pula. Pragmatisme meletakkan pemakaian mengenai sesuatu diatas pengetahuan itu sendiri, maka dari itu utilitas beserta kemampuan perwujudan nyata adalah hal-hal yang mempunyai kedudukan utama di sekitar pengetahuan mengenai sesuatu (Barnadib,1988; 23). According to the pragmatic theory of truth, a proposition is true in so far as it works or satisfies, working or satisfying being described variously by different exponent on the view (Bashori,1994). Nilai kegunaan praktis ini merupakan asal dari pemikiran sintesis antara idealisme dengan realisme yang saling melengkapi.
Dalam kegunaan pragmatis, fenomena yang terjadi bukan berarti hanya standardisasi pragmatis. Konsep dalam perguruan tinggi yang masa dulu sebagai konsep link and match, di dalamnya berakar dari pragmatisme yang parsial. Sebagaimana yang dikritik oleh rekonstruksionisme, sebagaimana dikatakan Jan Hendrik Rapar (1996; 83), merupakan reformasi sosial yang menghendaki renaissance sivilisasi modern. Para pendidik rekonstruksionisme melihat pendidikan dan reformasi sosial itu sesungguhnya sama. Dan kurikulum dijadikan sebagai problem centered yang merupakan pembentukan ordo sosial baru.
Guna membangun kerasnya peradaban yang baru, progresivisme memberikan warna bahwasanya pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan, melainkan kemampuan dan keterampilan berfikir dengan memberikan rangsangan yang tepat. John Dewey (tokoh pragmatisme), yang termasuk dalam golongan progresivisme menyatakan sekolah adalah institusi sosial dan pendidikan sendiri adalah suatu proses sosial. Selanjutnya, pendidikan adalah proses kehidupan (process of living), bukan sebagai persiapan masa depan. Pendidikan adalah proses kehidupan itu sendiri, maka kebutuhan individual anak didik harus diutamakan, bukan subject matter (Rapar,1996; 83).
Penciptaan narasi tersebut dapat dilihat dalam tiga persoalan. Pertama, penggunaan filsafat pendidikan analitik, secara definitif Rapar menggambarkan filsafat pendidikan analitik menganalisis serta menguraikan istilah-istilah dan konsep-konsep pendidikan seperti pengajaran (teaching), kemampuan (ability), pendidikan dan sebagainya. Alat-alat yang digunakan adalah logika dan linguistik (Rapar,1996; 83). Kedua, pendidikan seharusnya bersifat dialogis, bukan semata-mata transfer ilmu.
Ketiga, pendidikan sebagai teori kritik, mazhab Franfurt memberikan titik perluasan bahwasanya teori kritik bercirikan kritik terhadap masyarakat, bersifat historis yang berakar kepada tata pemikiran dan situasi tertentu, memiliki kekuatan untuk mengkritik fenomena yang dihadapi sekaligus melakukan kritik terhadap dirinya sendiri dan tidak memisahkan antara teori dan praktik, tindakan dan pengetahuan serta selalu melayani transformasi praktik sosial (Sunarto, 2003:99-100).
Kesimpulan
Dengan banyaknya aliran-aliran dalam ranah filsafat bukan berarti akan membuat semakin tidak jelasnya konstruksi filsafat pendidikan. Akan tetapi dalam masing-masing aliran dapt menghasilkan titik temu yang harmonis, yang fungsinya guna mendapatkan gambaran filsafat pendidikan yang harmonis dan etis serta mempunyai nilai tawar yang lebih qualified. Wallahu’alam bi shawab.
Daftar Pustaka
Barnadib,Imam,1988, Filsafat Pendidikan, Sistem Dan Metode, Andi Offset, Yogyakarta.
Bashori,Tauhid,2004, Pragmatisme Pendidikan, telaah Pemikiran John Dewey, http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html, diambil tahun Maret 2004
Brubacher,1950, Modern Philosophies of Education, New York, Mac Graw Hill Book Company, inc
Hadiwiyono,Harun,1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Yogyakarta, Kanisius.
Hamersma,Harry,1984, Tokoh-Tokoh Filsafat Modern, Jakarta, PT Gramedia.
Mudhofir,Ali,1988, Kamus Teori dan Aliran dalam Filsafat, Yogyakarta, Liberty.
Sudiarja,A, 2001, Pendidikan Radikal Tapi Dialogal, Basis No.01-02, Tahun ke-50, Januari-Februari, Yayasan BP Basis, Yogyakarta.
Sunarto, 2003, Konstruksi Epistemologi Max Horkheimer: Kritik Atas Manusia Modern, dalam Epistemologi Kiri, (ed) Listiyono S, Sunarto, Abd, Qadir Shaleh, Penerbit AR RUZZ, Yogyakarta
Tjaya, Thomas Hidya,2004, Mencari Orientasi Pendidikan, Sebuah Perspektif Historis, Jakarta, Kompas 4 Februari 2004.
* penulis (Althaf Zaidane Zarathustra) adalah peminat kajian pendidikan
September 19, 2007 at 3:17 am
apakah aliran filsafat pendidikan ini sama dengan aliran filsafat administrasi pendidikan?
September 29, 2007 at 7:05 pm
filsafat pendidikan adl apa itu pendidikan…
filsafat administrasi pendidikan adl apa itu administrasi pendidikan
kira2 sama gak yah?hehe…
kl alirannya mo dipake mana aja ga masalah seh..sapa yg ngelarang
tul ga?hehe….
March 1, 2008 at 1:05 am
apakah aliran-aliran kurikulum yang di indonesia sudah di terapkan?
March 17, 2008 at 5:54 am
saya gak tau ttg aliran2 kurikulum,bab diatas bukan bahas ttg kurikulum jd ga relevan kl saya menjawab.thx
April 14, 2008 at 1:08 pm
dari pada bingung, ikutin aja prosedur yang uda ada
oklek
May 19, 2008 at 7:03 am
kita terlalu byk prosedur yg menyebabkan esensi pendidikan tambah ruwet,trs yg mo diikutin yg mn bro?
mohon percerahan
May 29, 2008 at 7:47 am
saya mau tanya bagaimana dengan aliran nativisme,empirisme,naturalisme dan kovergensi
March 31, 2009 at 11:06 am
bagaimana dengan aliran fragmatisme
April 27, 2009 at 9:30 am
baca di halaman berikutnya, bab ini tentang aliran, bab lainnya tentang konsep (nativisme, empirisisme, naturalim etc) itulah susahnya kl kita dikotak-kotak kurikuluminasi antara alirang dengan konsep…met berapresiasi
September 9, 2009 at 7:34 am
apakah absolute idealisme?
February 13, 2010 at 7:38 am
maaf saya tdk paham maksud pertanyaannya. what is the meaning of absolute idealism? sepemahaman saya semua aliran idealisme selalu absolute yg artinya tertutup dalam dialektis. cb dicari dalam pandangan idealisme hegel. dia bercorak dialektika tertutup so pasti jadi absolut bukan?ato ada maksud lain dari pertanyaa itu?