MENAKAR FILSAFAT DI PANGGUNG REALITAS

hs. Yulianto *

Selayang Pandang

Perbuatan yang terlalu berani dan sombong ketika melakukan rumusan secara pasti tentang kata filsafat. Persoalan terminologis filsafat mempunyai kompleksitas pemikiran yang beragam karena mempunyai pembacaan terhadap metode, aliran, dan tujuan yang merupakan representasi dalam seluruh konstruk pemikiran seorang filsuf[1]. Di sisi lain, filsafat bukan berasal dari ketiadaan[2] serta perlu memperhatikan latar belakang sosial dan politik juga merupakan wilayah tersendiri yang memberikan landasan pijak munculnya realitas pemikiran tersebut[3].

Akan tetapi, dalam membaca akar tertentu secara intelektual terdapat konsensus untuk membicarakan wilayah seperti apa yang akan dihadapi dalam melakukan penelusuran tentang filsafat. Pembacaan pertama, secara etimologis, filsafat berasal dari bahasa Yunani merupakan gabungan dari philos (cinta atau love) dan Sophia (kebijaksanaan atau wisdom). Oleh karena itu, philosophia berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) Dan kata filsafat merupakan Arabisasi, suatu mashdar yang berarti kerja atau pencarian yang dilakukan oleh filsuf[4]. Kedua, Louis Kattsoff[5] dalam Elements of Philosophy memetakan tentang filsafat adalah sebagai berikut: 1) Filsafat adalah berpikir secara kritis, 2) Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis. 3) Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut. 4) Filsafat adalah berpikir secara rasional. 5) Filsafat harus bersifat komprehensif. Oleh karena itu, secara terminologis dapat dikatakan bahwa filsafat adalah berfikir secara radikal (radix), rasional, sistematis, kritis dan komperehensif sampai pada hakekat kebenarannya.

Secara historis, pemikiran filsafat berangkat dari premis-premis yang mendahuluinya. Asumsi-asumsi yang lama ditelaah kembali secara konstruktif guna mendapatkan penjabaran yang lebih memberikan cakrawa pemikiran rasional, yang dapat mewakili terhadap bangunan pemikiran pada masanya. Asumsi ini berangkat dari akar keraguan, kuriositas, ketidak puasan terhadap realitas yang sedang berlangsung, keheranan, ketakjuban Para ahli filsafat setidaknya memberikan penggambaran historisitas filsafat dalam empat periodisasi[6], yaitu Pertama, masa Yunani Kuno atau Klasik[7], ketidakpuasan terhadap penjabaran mitos menuju logos[8]. Jawaban mitologis (dari karya Homer dsb) kurang “berkenan” di hati beberapa filsuf. Sehingga pada masa ini bangunan pemikiran filsafat Yunani kuno banyak menjabarkan tentang kosmogonis (asal usul) dan kosmologis (sifat dan kejadian). Pemikirannya masih ditandai dengan pencarian prinsip atau asas pertama (arkhe) dari alam semesta. Meskipun berbicara dalam tatanan alam semesta akan tetapi perbincangan mengenai filsafat manusia menjadi perbincangan pada masa ini[9]. Kedua, munculnya agama-agama ikut mewarnai pada masa ini[10]. Sehingga pemikiran tersebut banyak dibawa oleh kaum agamawan (masa patristik)[11] dan puncaknya adalah pada pemikiran skolastika[12]. Dominansi agama sangat kentara pada masa ini dan ilmu pengetahuan sendiri tidak berkembang (dark age[13]). Filsafat dijadikan sebagai ancilla theologiae[14]. Ketiga, masa pencerahan (renaissance[15], aufklarung, enlightment) berasal dari terlalu dominansinya agama terhadap realitas dan corak pemikiran Aristotelian mulai ditinggalkan secara definitif, Kemajuan ilmu pengetahuan ikut memberi pemahaman tersendiri dengan tinjauan metode eksperimental dan matematis[16]. Sloganitas science for sake science only juga menjadikan perilaku dikhotomik antara filsafat, agama dan sains. Masa ini juga banyak bermunculan aliran-aliran besar filsafat seperti rasionalisme[17], empirisme[18], eksistensialisme[19], dan sebagainya. Keempat, filsafat kontemporer dan Logosentrisme. Perkembangan ini banyak melihat beberapa aspek yang terjadi dewasa ini. Bagaimana filsafat juga sebagai analisis kritis untuk berbagai fenomena yang sedang terjadi. Aliran-aliran juga banyak yang muncul misalnya dekonstruksionisme, post-modernisme, post- postmodernisme post strukturalisme dan beberapa perkembangan dalam filsafat ilmu.

Kenyataan faktual

Filsafat sebagai mater scientiarium atau “mbok”nya pengetahuan[20]. Akar pemahaman ini di beberapa kalangan para pemerhati filsafat lebih pada tatanan historis. Pro dan kontra perbincangan tentang filsafat di realitas memang menyeruak di permukaan[21]. Perubahan paradigma ilmu pengetahuan mengalami pergeseran yang sangat tajam[22]. Parsialitas ilmu pengetahuan dituding sebagai salah satu penyebab dan harus menjadi satu bahan perenungan yang mendalam bahwasanya perlu persiapan ilmu pengetahuan yang holistik. Ilmu-ilmu terapan atau khusus tidak dapat memberikan alternatif jawaban yang komperehensif, maka filsafat dijadikan sebagai partner dialogis untuk menjawab tantangan-tantangan yang tersembunyi yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu-ilmu khusus[23].

Dagobert D. Runes menterjemahkan philosophy is search indefinable[24], karena itu filsafat lebih mempunyai perilaku reflektif dan spekulatif[25] dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain. Problematikanya adalah sejauhmana sebenarnya filsafat juga dapat “dipuisikan” ditengah pasar yang carut marut seperti dewasa ini? Tidak hanya stigma yang menempel sebagai ilmu yang “aneh” karena berbagai kemunculannya terlihat dari fenomena yang tidak biasa (extraordinary). Setidaknya perenungan berfikir spekulatif filsafati akan memberikan holistisitas seluruh perenungan yang integral dari seluruh hasil ilmu dengan harapan mencapai beberapa kesimpulan mengenai sifat dasar jagad raya serta mengenai kedudukan dan pengharapan kira didalamnya[26].

Masa Depan Filsafat dan Filsafat Masa Depan

Apakah ada masa depan bagi filsafat? Pertanyaan itu menarik untuk diberi suatu garis bawah tersendiri sehingga para ahli filsafat perlu untuk memperbincangkan secara khusus masa depan filsafat[27]. Ungkapan yang menarik disampaikan oleh Archie J. Bahm yang mengatakan bahwa philosophy has a future only if man has a future. Whether man has a future depends in part upon his philosophy[28].

Menggagas tentang pemikiran filsafat masa depan bukan persoalan yang mudah, karena keluasan cakupan yang dijadikan obyek material dalam pengkajiannya. Konstruksi pemikiran filsafat masa depan, menurut penulis harus dihadapkan dalam beberapa hal, Pertama, pemikiran filsafat sebagai partner dialogis terhadap ilmu pengetahuan diharapkan bertindak kritis yang sifatnya tidak monokausal[29]. Konstruksi ini juga memposisikan arah dialektika dalam ranah ilmu pengetahuan dengan analisis-analisis kerjasama yang diorganisasikan berdasarkan “problem-problem yang bertopik filosofis”[30]. Kedua, filsafat harus mampu mengorganisasikan berbagai macam pemikiran menjadi sebuah pemikiran yang integral-holistik[31]. Ketiga, dikarenakan filsafat bukan merupakan ilmu yang berdiri sendiri hendaknya filsafat mampu memberikan analisis jawaban metodik sistematis yang dapat diterapkan pada realitas konkrit. Jadi, bukan cita niskala yang ditawarkan atau tidak bisa untuk direalisasikan atau tidak mampu untuk dipikirkan keberadaannya[32]. Keempat, perlunya melakukan perekayasaan ruang-ruang publik (public sphere) untuk menjadi wadah diskusi filsafat dengan ilmu pengetahuan lain. Prosesi perekayasaan ruang publik ini akan mempertemukan filsafat dengan ilmu pengetahuan lain maupun sebagai wadah sosialisasi ilmu filsafat sehingga lebih mempunyai bargaining position dan kemudian menjadi bargaining power ditengah khalayak ilmu pengetahuan yang kerap kali dianggap sebagai ilmu yang berdiri sendiri. Dialogis ini akan memberikan kesempatan kepada filsafat untuk membuktikan diri sebagai ilmu yang juga mampu untuk menjalin ikatan harmonis dengan ilmu pengetahuan lain. Kelima, adanya peminat dan pemerhati filsafat secara khusus yang terus menggali dan mengkaji pemikiran, aliran, metode dan metodologi untuk dikembangkan menjadi pemikiran-pemikiran baru dalam dunia filsafat[33].

Akhir Sebuah Catatan

Kesimpulan dari tulisan ini adalah tidak ada kesimpulan. Mari kita “tonton” kelanjutannya dengan minum coffee di warung kopi terdekat. Akhir tulisan ini penulis ungkapkan dengan sebuah puisi bertajuk Fluktuasi I.

Orang selalu tersenyum

Meski dengan seringai yang berbeda

Awanpun tersenyum

sembari menitikkan derai airmata

matahari

bulan

dedaunan

semua tersenyum

dengan bahasa yang tak sama

dalam tangga univokal

Wallahu ‘alam bi shawab.


[1] Dikutip dari Terminologi, http://filsafatkita.f2g.net/fd1.html. Diambil tahun 2004.

[2] Sesungguhnya tidak ada filsafat yang disusun dari ketiadaan dan tanpa hal-hal yang mendahuluinya. Lihat Louis O. Kattsoff dalam Elements Of Philosophy, (diterj) Pengantar Filsafat, 1996, Tiara Wacana, Yogyakarta, hal 6.

[3] Setidaknya persoalan beragam konstruksi pemikiran filsafat berdasarkan kepada kondisional atau latar belakang sosial dan politik yang melatar belakangi lahirnya pemikiran filsafati. Salah satu literatur yang dapat dijadikan acuan adalah Bertrand Russell, 2002, History Of Western Philosophy and Its Connection with  Political and Science Circumstances From The Earliest Times To Present Day, diterjemahkan Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Jaman Kuno Hingga Sekarang,(terj) sigit jatmiko dkk,Pustaka Pelajar, Yogyakarta

[4] Murtadha Muthahhari,,2002, Filsafat Hikmah, Pengantar Pemikiran Shadra, , Mizan, Bandung

[5] Ibid, Terminologi…..

[6] tulisan peta pemikiran periodisasi ini berakar pada asumsi pemikiran filsafat Barat.

[7] Muncul para filsuf Alam yaitu para ahli pikir yang menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan ini menjadi sasaran pemikiran mereka. Lihat Hadiwiyono,1980, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Kanisius, Yogyakarta, hal 15. Periodisasi Yunani Kuno atau Klasik didalamnya terdapat pemetaan masa Pra Sokrates yang merupakan para filsuf alam dan Masa Sokrates.

[8] Mitos merupakan anasir jawaban atas keheranan, ketakjuban manusia dari realitas alam semesta yang didapatkan dari kisah yang dipercaya sebagai kenyataan sedangkan Logos merupakan anasir jawaban yang didapatkan pada akal budi. Lihat Ahmad Zubaidi, tanpa tahun, Diktat Kuliah Filsafat Barat, Fak.Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

[9] Setidaknya hal tersebut pernah dikatakan oleh Herakleitos (540-475 SM) menyebutkan seluruh filsafatnya dengan edizêsamên emeôton (Aku mencari diriku sendiri), meskipun disebut sebagai filsuf alam yang berdiri pada garis perbatasan antara pemikiran kosmologis dan antropologis meyakini bahwasanya mustahil menyelami rahasia alam tanpa mempelajari rahasia manusia. Lihat Ernst Cassirer,An Essay of Man, (diterj) Manusia dan Kebudayaan, Kanisius, Yogyakarta, Hal 7. Kemudian puncaknya pemikiran tentang manusia pada masa Sokrates yang perlunya untuk melihat persoalan manusia sebagai hal yang utama. Kaum Sophists seperti Protagoras (480 SM) memberikan pernyataan tentang manusia sebagai homo mensura atau tolok ukur segala sesuatu, Man is the measure of all things, of things that are that they are, and of things not that they are not. Lihat  Charles H. Patterson, 1971, Western Philosophy 600 B.C. to 1600 A.D., Vol I, Cliff’s Notes Inc, Lincoln, Nebraska, hal 12. Socrates (469-399SM) memberikan titik balik pengukuhan yang signifikan terhadap persoalan tentang manusia, ia mengatakan perlunya manusia untuk mengenal dirinya sendiri (Gnouti Seauton)

[10] Yaitu kemunculan agama Yahudi dan Kristen, pada pemikiran Barat masa ini kemudian muncul pemikiran Hellenisne dan Romawi dengan corak agama.

[11] Para pemikirnya adalah para pater dan agamawan.

[12] Masa skolalistika merupakan padu padanan antara pemikiran filsafat dengan agama. Pemikiran filsafat digunakan sebagai argumentasi terhadap agama, seperti munculnya istilah fides quarrens intellectum (iman memberi terang akal budi) dan beberapa credo lainnya. Corak pemikiran filsafat yang menjadi titik pijakan terutama adalah bersumber kepada Plato yang kemudian memunculkan aliran NeoPlatonisme yang dimotori oleh Plotinus dan sumber yang kedua adalah Aristoteles terutama pada puncak skolastika terdapat pada Summa Theologia karya Thomas Aquinas. Masa akhir skolastika juga didalamnya para pemikir Islam juga berdasar pada karakter pemikiran ini, misalnya pada pemikiran Paripatetisme seperti pada pemikiran Ibnu Sina yang banyak bercorak Aristotelian, dan pemikiran Al Farabi yang serupa pandangan dengan corak Neo Platonis.

[13] Masa abad pertengahan ini disebut juga sebagai abad kegelapan (Dark Age) dimana ilmu pengetahuan tidak berkembang, akan tetapi secara progresif agama mengalami konstruksi pemikiran yang lebih maju.

[14] Budak agama. Filsafat masa Skolastika tidak lagi mencari kebenaran dan kenyataan karena kebenaran sudah diwahyukan, pencarian ini lebih kepada pembuktian secara akal kebenaran dan kenyataan tersebut. Lihat Endang Daruni Asdi,1978, Sejarah Filsafat Barat Abad Pertengahan, Yayasan Pembinaan Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal 16.

[15] Kelahiran Kembali yaitu usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi.

[16] Lihat K.Bertens,1998, Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius, Yogyakarta, hal 44.

[17] Dikembangkan oleh Rene Descartes dengan pernyataannya Cogito Ergo Sum.

[18] Tokoh-tokoh seperti David Hume, John Locke dsb.

[19] Tokoh-tokoh seperti Soren Kiergegaard, F.Nietzsche, Jean Paul Sartre.

[20] Banyak istilah untuk menyebutkan filsafat beberapa diantaranya adalah the great mother of the sciences (F.Bacon), the queen of all sciences, scientia scientiarum atau ilmu dari ilmu-ilmu (Henry Sidwick). Lihat Ibid, The Lian Gie, hal 204.

[21] Beberapa “kelakar” ejekan terhadap filsafat mengandung dua hal. Pertama, berasal dari pihak luar yang tidak mengerti filsafat dan sukar memahami filsafat, dan kedua, berasal dari kalangan pengkaji filsafat itu sendiri yang menandakan betapa sulitnya memahami persoalan-persoslan filsafat. Misalkan pernyataan William Shakespeare dalam Hamlet,”there are more things in heaven and earth, Horatio. Than are dreamt of in your philosophy”. Ataupun seperti yang dikatakan oleh para filsuf sendiri seperti William James yang mengatakan bahwa seorang filsuf seperti a blind man in a dark room looking for a black cat that is not there. His occupation is described as the art ‘endlessly disputing without coming to any conclution’ dan Karl Mrx mengatakan philosophy stands in the same relation to the study of actual world as onanism to sexual love. Lihat selengkapnya pada The Lian Gie,1979, Dari Administrasi Ke Filsafat, Karya Kencana, Yogyakarta, hal 7-11.

[22] Pergeseran ilmu pengetahuan masa modern lebih menitik beratkan kepada persoalan positivistik  yang dikembangkan oleh August Comte sebagai gambaran dialektika tertutup yang kemnudian berkembang pesat dengan paradigma eksperimental dan observasional, sehingga ilmu pengetahuan hanya merupakan penjabaran dari faktisitas yang terjadi semata. Termasuk didalamnya Hikmat Budiman menggambarkan cita-cita pencerahan tersebut “merangkul” tiga pesoalan yang saling berperan (interplay) yaitu Ilmu pengetahuan, kapitalisme dan teknologi, dalam pembentukan jaringan rasionalitas instrumental, rasionalitas efisiensi, birokrasi dan kalkulasi cost/ benefit). Akan tetapi, cita-cita pencerahan tersebut- dengan rasionalitas instrumental ilmu pengetahuan dan kapitalisme- manusia terjerumus ke dalam penciptaannya sendiri dan menciptakan ketercekaman bagi manusia itu sendiri. Lihat Hikmat Budiman,1997, Pembunuhan Yang Selalu Gagal, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal  73.

[23] Reposisi pemikiran ini lebih dimaknai bahwasanya filsafat yang notabene sebagai pemikiran yang holistik menemukan kembali jati dirinya dalam dua arti, yaitu pertama, filsafat mengangkat agendanya sendiri bukan sebagai ilmu pembantu yang dimajukan oleh para pemikir yang tertarik untuk berpikir, mengerti, memahami, menangkap sesuatu yang tidak terletak di jalan pemikiran orang banyak. Kedua, filsafat bertugas menyertai ilmu-ilmu dengan berbagai komentar, catatan, kritikan dan usulan. Lihat Franz Magnis Suseno,2000, Filsafat Diantara Ilmu-Ilmu, Jurnal Budaya dan Filsafat Mitra, Edisi 05 Agustus 2000, Yayasan Mitra Budaya, Jakarta, hal 4.

[24] Dagobert D, Runes, 1959,  Treasury Of World Philosophy,  Littlefield, Adam & Co, Patterson, New Jersey, hal xxiii.

[25] R.G Collingwood mengatakan philosophy is reflective, the philosophizing mind never simply thinks about an object; it always, while thinking about any object, thinks also about  its own thought about that object. Whitehead dengan corak berfikir spekulatif, speculative philosophy is the endeavor to frame a coherent, logical, necessary system of general ideas in terms of which every element of our experience can be interpreted. Ibid The Lian Gie, hal 41.

[26] C.D.Broad menuliskan its object is to take over the results of the various sciences, to add to them the results of the religious and ethical experiences of mankind, and then to reflect upon the whole. The hope is that, by this means, we may be able ro reach some general conclutions as to the nature of the universe, and as to our position and prospects in its. Lihat Ibid, The Lian Gie, hal 42.

[27] Beberapa tulisan tentang hal ini dapat dilihat antara lain, The Lian Gie, 1975, Dari Administrasi Ke Filsafat, Karya Wacana, Yogyakarta, hal 197-217, Louis Leahy, 1994, Esai Filsafat Masa Kini: Telaah Masalah Roh-Materi Berdasarkan Data Empiris Baru, Grafiti, Jakarta, hal 175-188 (wawancara dengan Louis Leahy), dll.

[28] Ibid, The Lian Gie, hal 197.

[29] Istilah ini diberikan oleh Franz Magnis Suseno yaitu Persoalan dilihat hanya dari satu sebab langsung, tanpa mempertimbangkan berbagai dimensinya. Dikutip dari Haryatmoko, Lemahnya Refleksi Filsafat, Mempermiskin Politik . http://www.kompas.com/kompas-cetak/0205/27/opini/lema04.htm. Diambil 14 Pebruari 2004.

[30] Sindhunata, 1981, Dilema Manusia Rasional, Gramedia, Jakarta, hal 14.

[31] Seperti dikatakan oleh Archie J. Bahm bahwa for the future of philosophy, one task is clear. How to achieve a true, adequate, comprehensive (East-West) synthesis which will preserve and utilize the truths (as well as appreciate the fantasies) of all of wold’s cultures. Lihat Ibid, The Lian Gie, hal 197.

[32] Realitas pembicaraan filsafat selalu cenderung “apologetik” dengan reputasi yang kurang baik, dianggap kabur, mengawang dan tidak praktis. Sedangkan disisi lain menganggap diri menjadi sumber dan awal semua ilmu. Filsafat dengan reputasi seperti itu cenderung bermonolog dalam renungan spekulatif lalu diragukan kemampuannya berdialog dengan ilmu-ilmu kontemporer. Lihat Toety Heraty Noerhadi, 1994, Dialog Filsafat Dengan Ilmu-Ilmu Pengetahuan, Suatu Pengantar Meta Metodologi, Pidato Pada Upacara Pengukuhan Sebagai Guru Besar Luar Biasa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, tanggal 23 November 1994, hal 1.

[33] Seperti sindiran yang pernah diungkapkan dalam karya Teater Iwan Simatupang bahwa para pemerhati filsafat lebih mengungkapkan tentang pengantar filsafat dibandingkan dengan berfilsafat. Lihat Iwan Simatupang, tanpa tahun, Bulan Bujur Sangkar, naskah teater, tidak diterbitkan.

*Penulis adalah peminat kajian filsafat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.