An Essay of Youth Epiphenomena

Hanum Finisha Morbidezza *

Sketch Of A Day
Setapak demi setapak menyusuri malam jalanan kota. Bulan tetap merona di tiap tanggal tertentu. Saat itu orang-orang beranjak dari pelukan dingin, keluar rumah sekedar menyapa keheningan malam dan mencari kehangatan wajah sang rembulan. Anak anak mulai bercanda saling menyapa bermain di tempat-tempat gelap untuk dicari teman lainnya. Petak umpet, begitu mereka biasa menyebutnya. Muda-mudi berjalan menyusuri kelembutan malam dengan menenteng holy’s book pulang dari persimpuhan tempat ibadah sambil bercanda sampai pada saling melirik lawan jenis dengan teguran manis untuk menarik perhatian. Ketika malam sudah mulai larut, lelah, hanya sebait kata yang terlukis dalam benak kembali ke peraduan.

I’m consoled only in sleep,

Finding happiness in dreams[1]

Fenomena itu mungkin terjadi pada waktu yang telah lewat. Bulan sampai sekarang tetap sama, matahari pun tetap sama tiap waktu –terus terang, terang terus- hanya letak pergeseran bumi yang menjadikan siang dan malam[2]. Akan tetapi, isi kreasi malam sudah mulai berbeda, tiada lagi anak-anak yang bermain petak umpet, orang-orang dewasa sudah mulai terlelap dalam dunia yang lainnya lagi. Jalanan berliku dalam carut marut orang lalu lalang, tergantikan hiruk pikuk suasana malam yang beraneka warna, mulai dari nonton sinetron, nongkrong di caffé dan discotique, lembur kerja tiap malam, bermain play station dan aneka situasi lainnya. Mode mulai berubah dari celana baggy ke arah cut bray dengan branded yang ditawarkan bervariasi seperti spyderbild, rip curl, quicksilver. Kaos-kaos ketat menampakkan bermacam [ maaf ] varian puser, merk celana dalam, sampai aneka warna belahan pantat? Rambut di reebonding dengan tampilan high light berwarna sampai dengan jelly yang ditata acak-acakan. Tiada lagi sandal jepit, berganti dengan sepatu-sepatu Nike, Airwalk, reebok. Tentengan kitab suci digantikan handphone berkamera, dzikir-dzikir tasbih digantikan dengan mencet tombol untuk mengirim SMS,MMS di mall-mall dan seterusnya, dan….seterusnya. Dan malam semakin larut membuaikan. Read the rest of this entry »

Manusia, Bencana, dan Tanggungjawab Sosial

Salman Nasution *

Manusia dan Architectonic Sistem Alam

Sistem alam semesta merupakan kesatuan yang masing-masing dari bagiannya tidak dapat dipilah dan dipisahkan sebagai satu bagian yang benar-benar mandiri. Memotong dan memilahkannya berarti “menariknya keluar”, dan itu artinya menyimpangkannya dari garis “kesempurnaan ciptaan”, dan berarti cacat secara teoritis maupun praktis. Mengapa ?, karena hakikat alam ini diciptakan sebagai satu kesatuan wujud, yang memiliki kebijaksanaan, awal (mabda’), dan akhir (ma’ad). Dengan bekal ini, kita memahami bahwa manusia, dalam segenap pandangannya dalam merumuskan skema kehidupan yang bersifat prinsipil dan darinya merumuskan sesuatu (teoritik) dan cara kehidupannya (praktek) haruslah bertumpu pada kesempurnaan architectonic sistem alam ini.

Hanya pandangan dunia-lah yang “akan memberikan kita mengenai apa yang ADA, dan apa yang TIDAK ADA, ketentuan dan hukum-hukum yang menguasai alam dan manusia, hukum-hukum yang menguasai masyarakat, serta apa hakikat alam ini ?”1, kata Syahid Muthahhari. Jika pandangan dunia manusia telah ditopang oleh prinsip-prinsip berpikir semacam ini, niscaya rasio manusia akan merasa puas, karena telah memahami bahwa tatanan alam adalah tatanan yang sempurna, memiliki tujuan-tujuan yang bijaksana, diatur oleh hukum-hukum yang pasti, dan bergerak ke satu arah, yakni alam semesta adalah dari Allah dan kembali kepada-Nya.

Dalam memandang alam semesta, manusia akan mampu menangkap fenomena umum (persepsi indera) sebagai cirinya : a) terbatas, pada daerah dan kuantitas tertentu, b) berubah, maujud material semuanya berada dalam keadaan tumbuh dan berkembang, atau dalam keadaan terkikis dan berkurang, c) bergantung, setiap maujud karena adanya maujud yang lain, dan adanya maujud yang lain itu karena adanya maujud lainnnya, dan seterusnya, d) membutuhkan, sebagai konsekuensi kebergantungan, dan, e) relatif, maujud-maujud yang dapat diinderai dan dapat dikenali itu relatif, bila dilihat dari sudut asal-usul dan kesempurnaan keberadaan mereka.2

Lima ciri fenomena inderawi alam ini, sebagai bentuk pandangan partikularitas , mengantarkan kita pada kesimpulan, bahwa status ciptaan memiliki batas-batas tertentu (dengan perbedaan-perbedaannya pada kadarnya masing-masing) dan pencariannya kepada Yang Mutlak, yang tidak terbatas, tidak berubah, tidak bergantung, tidak membutuhkan, dan tidak relatif. Read the rest of this entry »

MENELANJANGI GLOBALISASI

Oleh: Mujiono *

Sketsa Awal,

Pada dua dasawarsa terakhir ini, globalisasi telah menjadi semacam mantra yang terus dibacakan dan menjadi bahan pengkajian pada berbagai lintas bidang disiplin ilmu. Mantra globalisasi menyentuh semua ranah pemikiran, mulai dari ranah pemikiran ekonomi, politik, sosial, budaya dan lingkungan, bahkan hingga agama. Hal ini dikarenakan didalam berprosesnya globalisasi, segala bentuk tatanan kehidupan yang telah berakar dan bersemayam lama didalam tubuh masyarakat “dipaksa” memberikan reaksi ketika sentuhan globalisasi datang menjamah. Tatanan kehidupan yang dimaksud disini adalah semua infrastrutur dan suprastruktur yang ada didalam masyarakat, seperti; sistem ekonomi-politik nasional, identitas nasional atau nasionalisme, kedaulatan negara, kebijakan publik, sistem hukum, tata nilai, moralitas dan etika.

Tatanan yang berlaku dan bahkan diyakini sebagai sebuah kebenaran  didalam masyarakat akan menjadi identitas dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat sebuah bangsa, apalagi hal tersebut dimaknai sebagai bentuk ‘nasionalisme’, sehingga kemudian jika proses globalisasi terindikasi dan bahkan terbukti akan menyebabkan “terenggutnya” identias tersebut, tentu akan menimbulkan ketegangan-ketegangan didalam masyarakat. Seperti halnya yang terjadi di banyak negara yang dilalui oleh arus globalisasi,  ketegangan-ketegangan yang muncul didalam masyarakat mewujud dalam bentuk-bentuk yang lebih lugas, dan kadang dalam bentuknya yang ekstrim seperti; timbulnya sekte-sekte kepercayaan, penolakan terhadap perkembangan teknologi (cloning manusia), timbulnya kelompak masyarakat yang menjadi “puritan”, yang dalam mengekspresikan reaksi sikapnya menggunakan cara-cara kekerasan serta memicu timbulnya terorisme.

Berprosesnya globalisasi membawa perubahan-perubahan radikal pada tingkat global, yang percepatannya ditopang oleh revolusi teknologi, baik secara langsung maupun tidak langsung, telah mempengaruhi tatanan nasional sebuah masyarakat-bangsa. Perubahan-perubahan pada tingkat global mengharuskan tatanan nasional suatu bangsa “dipaksa” berubah untuk menyesuaikan diri menuju keseimbangan baru sekaligus untuk memenuhi tuntutan global. Tatanan nasional yang berubah tidak saja pada bidang ekonomi tetapi juga pada bidang sosial, politik, dan budaya.

Globalisasi bukan hanya dimengerti sebagai internasionalisme, liberasi, universalisme atau westernisasi, tetapi juga harus dimengerti sebagai de-teritorialisasi, yang terjadi segala bidang, baik ekonomi, politik sosial maupun budaya. Dengan de-teritorialisasi, batas-batas geografis ditiadakan atau dianggap tidak lagi berperan dan menentukan dalam pola interaksi (baca: perdagangan) antar negara. Batas peraturan teritorial diantara negara-negara bangsa yang mengatur seluk beluk produksi menjadi hilang atau paling tidak menjadi tidak bermakna lagi dan diganti dengan jaringan transaksi global yang terorganisir. Bukan lagi negara atau sistem masyarakat lokal-nasional, melainkan organisasi global-lah yang menentukan dan mengatur seluk beluk produksi tersebut.

Disinilah sebenarnya keberadaan negara-bangsa yang memiliki kedaulatan atas segenap aspek kehidupannya mendapatkan tindihan berat diera globalisasi ini, terutama negara-negara dunia ketiga. Arus globalisasi yang hampir tidak dapat dihindari akan menyentuh dan memasuki seluruh tatanan yang ada didalam masyarakat sebuah bangsa, hal ini karena globalisasi bergerak pada tiga wilayah, yaitu ekonomi, politik dan budaya. Read the rest of this entry »

MENAKAR FILSAFAT DI PANGGUNG REALITAS

hs. Yulianto *

Selayang Pandang

Perbuatan yang terlalu berani dan sombong ketika melakukan rumusan secara pasti tentang kata filsafat. Persoalan terminologis filsafat mempunyai kompleksitas pemikiran yang beragam karena mempunyai pembacaan terhadap metode, aliran, dan tujuan yang merupakan representasi dalam seluruh konstruk pemikiran seorang filsuf[1]. Di sisi lain, filsafat bukan berasal dari ketiadaan[2] serta perlu memperhatikan latar belakang sosial dan politik juga merupakan wilayah tersendiri yang memberikan landasan pijak munculnya realitas pemikiran tersebut[3].

Akan tetapi, dalam membaca akar tertentu secara intelektual terdapat konsensus untuk membicarakan wilayah seperti apa yang akan dihadapi dalam melakukan penelusuran tentang filsafat. Pembacaan pertama, secara etimologis, filsafat berasal dari bahasa Yunani merupakan gabungan dari philos (cinta atau love) dan Sophia (kebijaksanaan atau wisdom). Oleh karena itu, philosophia berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) Dan kata filsafat merupakan Arabisasi, suatu mashdar yang berarti kerja atau pencarian yang dilakukan oleh filsuf[4]. Kedua, Louis Kattsoff[5] dalam Elements of Philosophy memetakan tentang filsafat adalah sebagai berikut: 1) Filsafat adalah berpikir secara kritis, 2) Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis. 3) Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut. 4) Filsafat adalah berpikir secara rasional. 5) Filsafat harus bersifat komprehensif. Oleh karena itu, secara terminologis dapat dikatakan bahwa filsafat adalah berfikir secara radikal (radix), rasional, sistematis, kritis dan komperehensif sampai pada hakekat kebenarannya.

Secara historis, pemikiran filsafat berangkat dari premis-premis yang mendahuluinya. Asumsi-asumsi yang lama ditelaah kembali secara konstruktif guna mendapatkan penjabaran yang lebih memberikan cakrawa pemikiran rasional, yang dapat mewakili terhadap bangunan pemikiran pada masanya. Asumsi ini berangkat dari akar keraguan, kuriositas, ketidak puasan terhadap realitas yang sedang berlangsung, keheranan, ketakjuban Para ahli filsafat setidaknya memberikan penggambaran historisitas filsafat dalam empat periodisasi[6], yaitu Pertama, masa Yunani Kuno atau Klasik[7], ketidakpuasan terhadap penjabaran mitos menuju logos[8]. Jawaban mitologis (dari karya Homer dsb) kurang “berkenan” di hati beberapa filsuf. Sehingga pada masa ini bangunan pemikiran filsafat Yunani kuno banyak menjabarkan tentang kosmogonis (asal usul) dan kosmologis (sifat dan kejadian). Pemikirannya masih ditandai dengan pencarian prinsip atau asas pertama (arkhe) dari alam semesta. Meskipun berbicara dalam tatanan alam semesta akan tetapi perbincangan mengenai filsafat manusia menjadi perbincangan pada masa ini[9]. Kedua, munculnya agama-agama ikut mewarnai pada masa ini[10]. Sehingga pemikiran tersebut banyak dibawa oleh kaum agamawan (masa patristik)[11] dan puncaknya adalah pada pemikiran skolastika[12]. Dominansi agama sangat kentara pada masa ini dan ilmu pengetahuan sendiri tidak berkembang (dark age[13]). Filsafat dijadikan sebagai ancilla theologiae[14]. Ketiga, masa pencerahan (renaissance[15], aufklarung, enlightment) berasal dari terlalu dominansinya agama terhadap realitas dan corak pemikiran Aristotelian mulai ditinggalkan secara definitif, Kemajuan ilmu pengetahuan ikut memberi pemahaman tersendiri dengan tinjauan metode eksperimental dan matematis[16]. Sloganitas science for sake science only juga menjadikan perilaku dikhotomik antara filsafat, agama dan sains. Masa ini juga banyak bermunculan aliran-aliran besar filsafat seperti rasionalisme[17], empirisme[18], eksistensialisme[19], dan sebagainya. Keempat, filsafat kontemporer dan Logosentrisme. Perkembangan ini banyak melihat beberapa aspek yang terjadi dewasa ini. Bagaimana filsafat juga sebagai analisis kritis untuk berbagai fenomena yang sedang terjadi. Aliran-aliran juga banyak yang muncul misalnya dekonstruksionisme, post-modernisme, post- postmodernisme post strukturalisme dan beberapa perkembangan dalam filsafat ilmu. Read the rest of this entry »

PENJAJAHAN SEBUAH TRANSFER

Ditulis oleh:  Agus Sri Muladi
Tanggal: 28 Maret 2009

Globalisasi menjadi padanan Pasar Terbuka, untuk manjabarkan centeng-reneng Ekonomi Liberal Dunia yang Kapitalistik. Globalisasi merupakan proses yang bertujuan memaksukkan “UNSUR” ke ruang lingkup Dunia (Global) dengan tanpa batas. “UNSUR” disini pada akhirnya menjadi sebuah permasalahan yang amat kompleks dan pelik, kompleksitas “UNSUR” meliputi keruwetan urusan Budaya, Politik, Seni, Gaya Hidup, Humanisme, Kepercayaan, Hubungan antar Negara dan tentu saja Ekonomi.

Globalisasi dalam wacana kekinian dikonotasikan oleh dunia ketiga dengan imperalisme baru, imperalisme yang bersaudara sedarah sekandungan dengan imperalisme abad 15 sampai 20 masehi yang lalu. Eksploitasi, penindasan dan diskriminasi menjadi image dari tangan-tangan globalisasi yang tidak nampak oleh mata analisa biasa.

Ada sebagain komponen dunia ketiga melihat sudut pandang lain mengenai globalisasi. Globalisasi adalah cara penyebaran kesejahteraan dan kemudahan hidup, karena dalam globalisasi segala sesuatu menyangkut hajat hidup, kebutuhan dasar dan kebutuhan tambahan manusia tersebar luas keseluruh lapisan.

Titik permasalahan yang coba diurai adalah masalah pergulatan sebuah bangsa untuk mendapatkan manfaat positif dari Globalisasi. Setidak-tidaknya untuk menaikan derajad gengsi suatu bangsa, karena pada dasarnya globalisasi tidak ada manfaat dan tidak menambah nilai gengsi saat sebuah bangsa hanya dijadikan pasar dari prodak industi multi nasional atau sumber alamnya yang diperah tanpa melibatkannya dalam hal penguasaan teknologi, pengelolaan dan penguasaan asset atau sumber dayanya.

JANGAN SAMPAI SEJARAH TERULANG

Bangsa ini tidak sedang mengigau saat mengesahkan regulasi yang berakibat masuknya modal asing secara bebas untuk menguasai segala hal yang mereka anggap sebagai komuditi yang mendatangkan laba. Bila digambarkan kedatangan VOC ke bumi nusantara pada abad 15 yang lalu bertujuan sama dengan itu yaitu mencari komuditi yang laku dipasaran eropa untuk diperjual belikan.

Kita tidak mungkin mundur mengulang sejarah dengan menutup pintu investasi asing yang sudah terlanjur terbuka. Tugas kita saat ini adalah mentrasfer ilmu-ilmu yang dibawa oleh para pemodal asing itu, disamping itu Negara juga harus memiliki kesadaran yang sama. Kita dijajah belanda selama 350 tahun dan kita hanya bisa melanjutkan produk hukum pidana yang kental dengan kolunialisme (yang saat ini kita kenal dengan KUHP), adapun kemampuan-kemampuan Belanda yang lain tidak mampu kita ambil dan lanjutkan, misalkan manajemen industri gula, pertanian karet, sawit, teh, pengelolaan tata ruang kota, trasportasi perkereta apian dan lain sebagainya.

Misalkan kita sepakat bahwa perusahaan multi nasional saat ini adalah kolonialis baru, jangan pernah kita gunakan cara-cara yang dilakukan oleh Sultan Agung, Sultan Banten, P. Diponegoro, Perlawanan Aceh dan Pahlawan-pahlawan lainnya yang pada akhirnya gagal melawan Belanda dan hanya menjadi pahlawa untuk dirinya sendiri. Minimal strategi yang kita gunakan adalah yang dilakukan oleh Raja Kesultanan Yogyakarta, kooperatif terhadap Belanda dan menunggu momentum yang tepat, walau itu ratusan tahun lamanya untuk kemudian mendukung musuh Belanda yang sepadan dengannya. Raja Kasunanan Surakarta kooperatif tapi dia tidak tahu momentum hingga akhirnya menjadi sebuah ironi.

Contoh kegagalan yang nampak mata akibat perlawanan terhadap Belanda adalah apa yang menimpa Sultan Agung dan Sultan Banten. Apa yang telah menimpa Sultan Agung masih relatif beruntung, kerajaan yang dia bangun didaerah Pleret Bantul Yogyakarta kini tinggal legenda, tapi ada orang yang mau melanjutkan buah pikir dan kerajaannya walau dengan cara harus hijrah karena takut dengan Belanda bila dianggap sebagai kerajaan ekstablisenya Sultan Agung. Yang terjadi dengan Sultan Banten sangatlah menyakitkan, kerajaannya dihapus dari muka bumi oleh Belanda, sampai saat ini tidak mampu bangkit lagi. Eksitensi Banten akhirnya diakui lagi paska pemekaran provinsi Jawa Barat menjadi dua propinsi tapi tentu saja dalam bentuk Banten yang lain.

NILAI MINIMAL YANG HARUS KITA DAPATKAN

Yang kita butuhkan dari para penjajah sebelum mereka meinggalkan kita adalah budaya etos kerja yang mereka kembangkan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Karena hasil dari budaya etos kerja adalah terciptanya manajemen efektif efisien, baik dilingkungan pemerintahan maupun dilingkungan perusahaan modern. Etos kerja merupakan proses pemahaman masyarakat terhadap penambahan kwalitas hidup dengan tercukupinya kebutuhan materi, karena dasar dari etos kerja adalah bagaimana menciptakan sebuah nilai tambah dari sebuah barang.

Bangsa Indonesia paham betul bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak akan tercapai tanpa ada pemberdayaan masyarakatnya, tapi sebuah ironi kemudian ketika 60 tahun merdeka rezim-rezim yang berkuasa hanya mampu mengajar tapi tak berdaya mendidik bangsanya. Lalu apa korelasinya antara budaya kerja dengan kemajuan sebuah Bangsa, apakah dua hal ini sudah menjadi paket prasyarat untuk menjadi Bangsa yang maju. Tidak ada Bangsa yang maju tanpa Etos Kerja yang tinggi menjadi premis awal dari permasalahan kemajuan sebuah Bangsa.

Asumsi yang dikedepankan adalah proses akulturasi dua kebiasaan yang bisa dikatakan pertolak belakang. Para Pemodal asing masuk ke Indonesia lewat penanaman investasi di pasar Indonesia, Para pemodal yang merupakan orang asing ini mempunyai kebiasaan yang berbeda tentunya dengan bangsa Indonesia. Etos Kerja yang terbina sedari kecil dalam didikan komunitas masyarakat industri menjadikan kebiasaan bekerja dengan motivasi tinggi sudah menjadi akar kehidupan pada diri mereka. Akar budaya kerja Bangsa Indonesia adalah budaya kerja pertanian dan budaya kerja priyayi. Dua kebiasaan yang berbeda ini dipertemukan dan lebih diintensifkan dialektikanya dengan proses globalisasi.

Bangsa Jepang yang kalah perangpun kemudian mampu menjadi bangsa “Penjajah” kembali hanya dalam kurun waktu kurang lebih 40 tahun. Bukankah mereka hanya mengandalkan Sumber Daya Manusianya. Betapa mereka sudah ribuan kilo meter dihadapan kita menyangkut kemajuan dalam hal teknologi dan ilmu pengetahuan. Lagi – lagi adalah Sumber Daya Manusia dengan etos kerja tinggi yang mereka andalkan tidak yang lainnya. Fokus utama yang mereka ciptakan untuk menjadi bangsa yang maju adalah menjadikan manusia – manusia yang menjadi warga negaranya adalah orang – orang yang punya etos kerja tinggi, ketrampilan dan kemampuan berkompetisi.

Bangsa ini harus siap menghadapi Globalisasi dengan tepat dan benar, pengusaha kecil dan orang – orang yang terpinggirkan oleh kultur harus dilindungi. Pemerintah harus punya kepentingan untuk melindungi pengusaha – pengusah kecil. Melindungi pengusaha kecil dan orang – orang yang terpinggirkan bukan berarti bangsa kita anti globalisasi tapi inilah tugas dan fungsi dari pemerintah yaitu melindungi warganya dari keadaan yang dapat membuat mereka menderita karena kesempatan dalam memperoleh kemampuan ekonomi dicengram oleh Raksasa yang ganas yaitu perusahaan Multi Nasional.

Perlindungan dan proteksi adalah starategi pertahanan dalam melawan globalisasi, karena seperti telah diutarakan diatas bangsa ini akan menemukan kegagalan bila menghadapi globalisasi secara frontal. Globalisasi akan menjadi sebuah mesin pencabut akar – akar kebudayaan dan kemanusiaan bila kita tidak siap menghadapinya.

MUNGKINKAH INI SEBUAH TRANSFER

Bila kita lihat dari sudut transfer menajeman organisasi dan budaya kerja, prifatisasi bisa dijadikan pendekatan untuk itu. Guna menciptakan perusahaan yang lebih efektif dan efisien dibutuhkan tipe pekerja yang mempunyai etos kerja tinggi, kemudian dengan menejemen efektif efisien akan mampu menciptakan kondisi yang stabil dalam oraganisasi yang ujung-ujungnya adalah kemampuan bersaing dipercaturan global.

Dengan asumsi privatisasi akan menjadi lembaga akulturasi budaya dan kepemimpinan dalam oraganisasi perusahaan modern. Ini akan menjadi berkah bagi bangsa indonesia untuk jangka yang panjang, walau secara praktik belum ada pembenarannya tapi melihat keadaan buruk ini harus kita rubah maka segala konsekuensi harus siap kita hadapi. Kita membutuhkan tradisi dan kebiasaan baru untuk bisa terus bertahan dalam percaturan dunia dan privatisasi adalah jalan untuk menciptakan alkuturasi budaya kerja demi kemajuan bangsa Indonesia.

Kegiatan bisnis perusahaan Multi Nasional menyentuh para pekerja pada tingkatan yang paling bawah, sistem manajeman pada Bank yang telah dikuasai oleh perusahaan Multi nasional pasti secara langsung maupun tidak akan mempengaruhi dan menyentuh UKM yang diberikan pinjaman melewati Bank tersebut.

TIDAK ADA YANG GRATIS DARI PENJAJAH

Tapi dalam perspektif lain dalam sejarahnya tidak ada sebuah penjajahan yang dengan sadar mau mentrasfer kemapanan peradabannya kepada sebuah komunal yang mereka jajah. Dimungkinkan juga dalam kasus yang terpapar didepan tadi, bahwa tidak mungkin kita mendapatkan ilmu para menir – menir kapitalis tadi. Mereka punya kepentingan terhadap ilmu yang mereka kuasai, dan ada kecenderungan ilmu itu tidak akan diberikan pada orang – orang yang bertolak belakang dengan kepentingan perusahaan Multi Nasional tadi.

Karena bangsa-bangsa didunia ini berusaha menuju sebuah tatanan masyarakat industri, maka bangsa ini membutuhkan kebiasaan etor kerja itu tidak sekedar pengetahuan teoritik mengenai industrialisasi. Bangsa ini telah gagal mentrasfer manajemen perusahaan gula yang pada waktu itu dikuasai menir-menir Belanda, kita tahu bahwa saat perusahaan gula itu masih dikuasai VOC produk gula Hindia Belanda adalah nomor satu didunia. Pengelolaan kota Betawi adalah kegagalan kita sebagai bangsa, dulu waktu masih dikuasai VOC, Betawi adalah kota yang ramah lingkungan, saat ini pasti anda tidak percaya bahwa kita lebih jahil dari pada VOC dalam urusan lingkungan.

Kita semua harus membayar mahal karena penjajahan, nilai pembayaran kita tidak hanya berupa harga materi tapi sudah merembes dan menembus batas-batas keaslian kita. Kita harus membayarnya dengan kerelaan kita untuk berubah, merubah kebiasaan budaya kita. Kita merasa menjadi mahluk asing karena semua itu, harga transfer penjajahan yang kita inginkan adalah mengasingkan kita. Ini semua dikarenakan keinginan kita untuk menjadi bangsa yang telah menjajah kita.

GERAK

Ditulis Oleh: srimuladi_agus [at] yahoo [dot] com

Yogyakarta,  Jum’at Kliwon 13 Maret 2009

Sekitar awal abad 19 yang lalu kata Pergerakan menjadi simbul semangat yang berkobar didada para pemuda terpelajar di Nusantara ini. Mereka menggunakan kata Pergerakan sebagai jargon cita-cita masa depan dunia diluar mereka.

Dari sudut tata bahasa Pergerakan berasal dari kata dasar gerak, yang artinya melakukan sebuah tindakan untuk menempati ruang lain dari ruang yang semula ia tempati. Gerak adalah sebuah kata kerja yang menggambarkan tindakan “BENDA” karena adanya faktor lain yang menggerakkannya. “BENDA” dalam bergerak membutuhkan sebuah energi yang berfungsi sebagai pendorong untuk memenuhi ruangan baru dengan berbagai macam gaya yang ia gunakan. Gerakan bisa mengubah “BENDA” menjadi “BENDA BARU” yang lebih bermanfaat. Manusia adalah sebuah “BENDA”, dan tercipta dalam takdirnya untuk bergerak. Pergerakan tidaklah menjadi perkara yang mudah bila menyangkut sinergisitas antar subsistem dan sistem yang merupakan kesatuan dari “BENDA” itu. Sudah menjadi keharusan kemudian bila pergerakan dilakukan oleh “ BENDA” yang menginginkan pertumbuhan, karena pertumbuhan adalah gerak yang akan menempati ruangan baru.

Lalu gerakan mana yang harus dilakukan dengan kesadaran kita sebagai manusia, banyak hal sebenarnya gerakan yang harus kita lakukan sebagai manusia. Tidak hanya gerakan dalam artian tubuh kita atau anggota badan kita yang bergerak tapi mulai dari wawasan keilmuan kita, pengetahuan akan alam, rahasia ke – Tuhan – an sampai dengan hal – hal ghaib yang berdimensi lain dengan kita. Tidak mungkin manusia stagnan dalam segala hal atau menciptakan kondisi yang stagnan untuk hal tertentu dan mengembangkan hal lain. Pergerakan dalam berkembang haruslah seiring sejalan dalam segala hal, bila kita mengkebiri hal tertentu untuk membenarkan perkembangan dalam satu sisi saja tunggu kehancuran apa – apa yang telah terencanakan oleh kita semua itu.

Kita bisa menyaksikan Imperalium Romawi, Bizantium Persi, Konstatinopel, Mesir kuno sampai generasi Islam. Mereka tinggal kenangan yang mengagumkan dan menjadikan pertanyaan yang besar. Kenapa mereka bisa musnah dan tidak eksis sampai abad 20 ini ?, sebenarnya fonemena apa dibalik kehancuran peradaban itu semua. Abad 20 diwakili peradaban Kapitalis yang tentu saja dipelopori oleh Negara – Negara G 8, dalam hal Imtek tidak dipungkiri pada abad ini telah mencatat sejarah yang dasyat. Benarkah kehancuran Imperalium pada abad – abad yang lalu itu karena ketidak sanggupan lagi sebuah Komunitas untuk terus bergerak, atau memang ruang gerak yang tersedia telah habis karena keterbatasan ruang. Pertanyaan berikutnya adalah kehancuran peradaban tadi apa dikarenakan ausnya atau habisnya masa pakai dari peralatan yang mengerakkan tubuh dari peradaban tadi ?. alat – alat pergerakan tadi misalnya adalah penganekaragaman kesempatan masyarakat, atau pembagian kerja yang tidak efektif lagi dalam menampung pertumbuhan penduduk yang bertambah dengan pesat.

Abad Kapitalisme dimungkinkan untuk tidak kehilangan ruang bergerak. Globalisasi yang merupakan pembukaan ruangan baru bagi akses pasar walau menyakitkan untuk Negara – Negara satelit tapi ini merupakan konsekuensi dari teori hisapan peradaban yang lebih kuat dan mapan. Dalam globalisasi kepentingan Bangsa tidaklah menjadi penting kecuali hanya sebagai alat propaganda semata, peran yang lebih utama sebenarnya adalah kepentingan dari pembukaan pasar baru dan penguasaan sumber – sumber daya alam untuk memungkinkan sebagai energi dalam bergerak dan ruangan yang tersedia untuk menjual komuditi. Karena industri – industri yang tumbuh bersama kapitalisme itu mebutuhkan pangsa pasar dan tidak mungkin ia berhenti berproduksi, berhenti produksi sama dengan mati. Yang menjadi masalah lagi adalah kestabilan produksi dalam jangka panjang tidaklah baik untuk pertumbuhan, saat industri – industri tadi harus terus berproduksi tapi saat itu pula pangsa pasar tidak tercipta maka akan menjadikan permasalahan yang rumit. Ketimpangan kesejahteraan antara Negara maju dengan Negara ke – 3 amatlah lebar, dan secara teori kayaknya tidak mungkin terkejar oleh Negara Negara ke – 3 tadi dalam hal kesejahteraan. Tapi tidak ada yang tidak mungkin didalam urusan keduniaan ini, pengamat – pengamat perekonomian dunia memprediksikan Cina akan menyalip AS pada tahun 2020 nanti, kenapa Cina bisa menyalip AS dalam kesejahteraan dan kemakmuran ini.

Penguasaan asset terutama yang akan menghasilan sumber daya bahan pokok amatlah penting dalam percaturan arus globalisasi saat ini. Perusahaan trasnasionalis yang kepemilikan perusahaan itu tidak jelas menancapkan pondasi – pondasi perekonomiannya agar Negara – Negara satelit bergantung kepada investasi dan roda perusahaannya. Secara makro kepemilikan sebuah asset atau pengelolaan perusahaan amatlah penting untuk sebuah bangsa, pengkajiaan akan kepemilikan sebuah perusahaan dan pengelolaannya amatlah dibutuhkan untuk kestabilan dan berdiri diatas kaki sendiri. Bukanlah ketakutan yang berlebihan bila kita mengkawatirkan keberadaan perusahaan asing yang kemudian bisa mengkontrol kepentingan nasional kita saat ketergantungan kita pada perusahaan itu sudahlah amat sangat. Ketersediaan lapangan kerja dan investasi untuk menciptakan pendapatan amatlah penting untuk sebuah bangsa.

Peradaban yang terus bergerak akan menjadi penerus keberadaannya dimuka bumi, asalkan pergerakan itu mampu dipertanggung jawabkan keberlanjutannya, dan itu yang saat ini diabaikan oleh bankir-bankir amerika yang memicu krisis. Dan jangan lupa kita tercipta karena adanya proses pergerakan, tidak ada pergerakan maka tidak pernah akan ada kita. Walau sekarang ada bayi tabung itu kasus lain, dan amerika sekarang membuat juga bayi tabung dengan anggaran 7.000 milyd US $ atau kalau dirupiyahkan sekitar 77.000 trilyun rupaih dengan kurs 11.000 ribu. Untuk menyelamatkan keberlanjutan negaranya. Bayi tabung memang sebuah ironi.

Syari’at Islam. Siapkah Kita Menyambutnya?

kadang saya berpikir, andaikata amerika tidak mengusik kehidupan kita lagi. dan semua komponen negara ini setuju untuk merubah indonesia menjadi negara islam. apa yang akan saya lakukan setelah semua itu terjadi? mungkin saya akan bahagia begitu pula anda, dan kemudian tidak berapa lama lagi saya akan bingung, apa yang harus saya lakukan?. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.