Ditulis oleh: Agus Sri Muladi
Tanggal: 28 Maret 2009
Globalisasi menjadi padanan Pasar Terbuka, untuk manjabarkan centeng-reneng Ekonomi Liberal Dunia yang Kapitalistik. Globalisasi merupakan proses yang bertujuan memaksukkan “UNSUR” ke ruang lingkup Dunia (Global) dengan tanpa batas. “UNSUR” disini pada akhirnya menjadi sebuah permasalahan yang amat kompleks dan pelik, kompleksitas “UNSUR” meliputi keruwetan urusan Budaya, Politik, Seni, Gaya Hidup, Humanisme, Kepercayaan, Hubungan antar Negara dan tentu saja Ekonomi.
Globalisasi dalam wacana kekinian dikonotasikan oleh dunia ketiga dengan imperalisme baru, imperalisme yang bersaudara sedarah sekandungan dengan imperalisme abad 15 sampai 20 masehi yang lalu. Eksploitasi, penindasan dan diskriminasi menjadi image dari tangan-tangan globalisasi yang tidak nampak oleh mata analisa biasa.
Ada sebagain komponen dunia ketiga melihat sudut pandang lain mengenai globalisasi. Globalisasi adalah cara penyebaran kesejahteraan dan kemudahan hidup, karena dalam globalisasi segala sesuatu menyangkut hajat hidup, kebutuhan dasar dan kebutuhan tambahan manusia tersebar luas keseluruh lapisan.
Titik permasalahan yang coba diurai adalah masalah pergulatan sebuah bangsa untuk mendapatkan manfaat positif dari Globalisasi. Setidak-tidaknya untuk menaikan derajad gengsi suatu bangsa, karena pada dasarnya globalisasi tidak ada manfaat dan tidak menambah nilai gengsi saat sebuah bangsa hanya dijadikan pasar dari prodak industi multi nasional atau sumber alamnya yang diperah tanpa melibatkannya dalam hal penguasaan teknologi, pengelolaan dan penguasaan asset atau sumber dayanya.
JANGAN SAMPAI SEJARAH TERULANG
Bangsa ini tidak sedang mengigau saat mengesahkan regulasi yang berakibat masuknya modal asing secara bebas untuk menguasai segala hal yang mereka anggap sebagai komuditi yang mendatangkan laba. Bila digambarkan kedatangan VOC ke bumi nusantara pada abad 15 yang lalu bertujuan sama dengan itu yaitu mencari komuditi yang laku dipasaran eropa untuk diperjual belikan.
Kita tidak mungkin mundur mengulang sejarah dengan menutup pintu investasi asing yang sudah terlanjur terbuka. Tugas kita saat ini adalah mentrasfer ilmu-ilmu yang dibawa oleh para pemodal asing itu, disamping itu Negara juga harus memiliki kesadaran yang sama. Kita dijajah belanda selama 350 tahun dan kita hanya bisa melanjutkan produk hukum pidana yang kental dengan kolunialisme (yang saat ini kita kenal dengan KUHP), adapun kemampuan-kemampuan Belanda yang lain tidak mampu kita ambil dan lanjutkan, misalkan manajemen industri gula, pertanian karet, sawit, teh, pengelolaan tata ruang kota, trasportasi perkereta apian dan lain sebagainya.
Misalkan kita sepakat bahwa perusahaan multi nasional saat ini adalah kolonialis baru, jangan pernah kita gunakan cara-cara yang dilakukan oleh Sultan Agung, Sultan Banten, P. Diponegoro, Perlawanan Aceh dan Pahlawan-pahlawan lainnya yang pada akhirnya gagal melawan Belanda dan hanya menjadi pahlawa untuk dirinya sendiri. Minimal strategi yang kita gunakan adalah yang dilakukan oleh Raja Kesultanan Yogyakarta, kooperatif terhadap Belanda dan menunggu momentum yang tepat, walau itu ratusan tahun lamanya untuk kemudian mendukung musuh Belanda yang sepadan dengannya. Raja Kasunanan Surakarta kooperatif tapi dia tidak tahu momentum hingga akhirnya menjadi sebuah ironi.
Contoh kegagalan yang nampak mata akibat perlawanan terhadap Belanda adalah apa yang menimpa Sultan Agung dan Sultan Banten. Apa yang telah menimpa Sultan Agung masih relatif beruntung, kerajaan yang dia bangun didaerah Pleret Bantul Yogyakarta kini tinggal legenda, tapi ada orang yang mau melanjutkan buah pikir dan kerajaannya walau dengan cara harus hijrah karena takut dengan Belanda bila dianggap sebagai kerajaan ekstablisenya Sultan Agung. Yang terjadi dengan Sultan Banten sangatlah menyakitkan, kerajaannya dihapus dari muka bumi oleh Belanda, sampai saat ini tidak mampu bangkit lagi. Eksitensi Banten akhirnya diakui lagi paska pemekaran provinsi Jawa Barat menjadi dua propinsi tapi tentu saja dalam bentuk Banten yang lain.
NILAI MINIMAL YANG HARUS KITA DAPATKAN
Yang kita butuhkan dari para penjajah sebelum mereka meinggalkan kita adalah budaya etos kerja yang mereka kembangkan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat. Karena hasil dari budaya etos kerja adalah terciptanya manajemen efektif efisien, baik dilingkungan pemerintahan maupun dilingkungan perusahaan modern. Etos kerja merupakan proses pemahaman masyarakat terhadap penambahan kwalitas hidup dengan tercukupinya kebutuhan materi, karena dasar dari etos kerja adalah bagaimana menciptakan sebuah nilai tambah dari sebuah barang.
Bangsa Indonesia paham betul bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak akan tercapai tanpa ada pemberdayaan masyarakatnya, tapi sebuah ironi kemudian ketika 60 tahun merdeka rezim-rezim yang berkuasa hanya mampu mengajar tapi tak berdaya mendidik bangsanya. Lalu apa korelasinya antara budaya kerja dengan kemajuan sebuah Bangsa, apakah dua hal ini sudah menjadi paket prasyarat untuk menjadi Bangsa yang maju. Tidak ada Bangsa yang maju tanpa Etos Kerja yang tinggi menjadi premis awal dari permasalahan kemajuan sebuah Bangsa.
Asumsi yang dikedepankan adalah proses akulturasi dua kebiasaan yang bisa dikatakan pertolak belakang. Para Pemodal asing masuk ke Indonesia lewat penanaman investasi di pasar Indonesia, Para pemodal yang merupakan orang asing ini mempunyai kebiasaan yang berbeda tentunya dengan bangsa Indonesia. Etos Kerja yang terbina sedari kecil dalam didikan komunitas masyarakat industri menjadikan kebiasaan bekerja dengan motivasi tinggi sudah menjadi akar kehidupan pada diri mereka. Akar budaya kerja Bangsa Indonesia adalah budaya kerja pertanian dan budaya kerja priyayi. Dua kebiasaan yang berbeda ini dipertemukan dan lebih diintensifkan dialektikanya dengan proses globalisasi.
Bangsa Jepang yang kalah perangpun kemudian mampu menjadi bangsa “Penjajah” kembali hanya dalam kurun waktu kurang lebih 40 tahun. Bukankah mereka hanya mengandalkan Sumber Daya Manusianya. Betapa mereka sudah ribuan kilo meter dihadapan kita menyangkut kemajuan dalam hal teknologi dan ilmu pengetahuan. Lagi – lagi adalah Sumber Daya Manusia dengan etos kerja tinggi yang mereka andalkan tidak yang lainnya. Fokus utama yang mereka ciptakan untuk menjadi bangsa yang maju adalah menjadikan manusia – manusia yang menjadi warga negaranya adalah orang – orang yang punya etos kerja tinggi, ketrampilan dan kemampuan berkompetisi.
Bangsa ini harus siap menghadapi Globalisasi dengan tepat dan benar, pengusaha kecil dan orang – orang yang terpinggirkan oleh kultur harus dilindungi. Pemerintah harus punya kepentingan untuk melindungi pengusaha – pengusah kecil. Melindungi pengusaha kecil dan orang – orang yang terpinggirkan bukan berarti bangsa kita anti globalisasi tapi inilah tugas dan fungsi dari pemerintah yaitu melindungi warganya dari keadaan yang dapat membuat mereka menderita karena kesempatan dalam memperoleh kemampuan ekonomi dicengram oleh Raksasa yang ganas yaitu perusahaan Multi Nasional.
Perlindungan dan proteksi adalah starategi pertahanan dalam melawan globalisasi, karena seperti telah diutarakan diatas bangsa ini akan menemukan kegagalan bila menghadapi globalisasi secara frontal. Globalisasi akan menjadi sebuah mesin pencabut akar – akar kebudayaan dan kemanusiaan bila kita tidak siap menghadapinya.
MUNGKINKAH INI SEBUAH TRANSFER
Bila kita lihat dari sudut transfer menajeman organisasi dan budaya kerja, prifatisasi bisa dijadikan pendekatan untuk itu. Guna menciptakan perusahaan yang lebih efektif dan efisien dibutuhkan tipe pekerja yang mempunyai etos kerja tinggi, kemudian dengan menejemen efektif efisien akan mampu menciptakan kondisi yang stabil dalam oraganisasi yang ujung-ujungnya adalah kemampuan bersaing dipercaturan global.
Dengan asumsi privatisasi akan menjadi lembaga akulturasi budaya dan kepemimpinan dalam oraganisasi perusahaan modern. Ini akan menjadi berkah bagi bangsa indonesia untuk jangka yang panjang, walau secara praktik belum ada pembenarannya tapi melihat keadaan buruk ini harus kita rubah maka segala konsekuensi harus siap kita hadapi. Kita membutuhkan tradisi dan kebiasaan baru untuk bisa terus bertahan dalam percaturan dunia dan privatisasi adalah jalan untuk menciptakan alkuturasi budaya kerja demi kemajuan bangsa Indonesia.
Kegiatan bisnis perusahaan Multi Nasional menyentuh para pekerja pada tingkatan yang paling bawah, sistem manajeman pada Bank yang telah dikuasai oleh perusahaan Multi nasional pasti secara langsung maupun tidak akan mempengaruhi dan menyentuh UKM yang diberikan pinjaman melewati Bank tersebut.
TIDAK ADA YANG GRATIS DARI PENJAJAH
Tapi dalam perspektif lain dalam sejarahnya tidak ada sebuah penjajahan yang dengan sadar mau mentrasfer kemapanan peradabannya kepada sebuah komunal yang mereka jajah. Dimungkinkan juga dalam kasus yang terpapar didepan tadi, bahwa tidak mungkin kita mendapatkan ilmu para menir – menir kapitalis tadi. Mereka punya kepentingan terhadap ilmu yang mereka kuasai, dan ada kecenderungan ilmu itu tidak akan diberikan pada orang – orang yang bertolak belakang dengan kepentingan perusahaan Multi Nasional tadi.
Karena bangsa-bangsa didunia ini berusaha menuju sebuah tatanan masyarakat industri, maka bangsa ini membutuhkan kebiasaan etor kerja itu tidak sekedar pengetahuan teoritik mengenai industrialisasi. Bangsa ini telah gagal mentrasfer manajemen perusahaan gula yang pada waktu itu dikuasai menir-menir Belanda, kita tahu bahwa saat perusahaan gula itu masih dikuasai VOC produk gula Hindia Belanda adalah nomor satu didunia. Pengelolaan kota Betawi adalah kegagalan kita sebagai bangsa, dulu waktu masih dikuasai VOC, Betawi adalah kota yang ramah lingkungan, saat ini pasti anda tidak percaya bahwa kita lebih jahil dari pada VOC dalam urusan lingkungan.
Kita semua harus membayar mahal karena penjajahan, nilai pembayaran kita tidak hanya berupa harga materi tapi sudah merembes dan menembus batas-batas keaslian kita. Kita harus membayarnya dengan kerelaan kita untuk berubah, merubah kebiasaan budaya kita. Kita merasa menjadi mahluk asing karena semua itu, harga transfer penjajahan yang kita inginkan adalah mengasingkan kita. Ini semua dikarenakan keinginan kita untuk menjadi bangsa yang telah menjajah kita.