Selayang Pandang
Perbuatan yang terlalu berani dan sombong ketika melakukan rumusan secara pasti tentang kata filsafat. Persoalan terminologis filsafat mempunyai kompleksitas pemikiran yang beragam karena mempunyai pembacaan terhadap metode, aliran, dan tujuan yang merupakan representasi dalam seluruh konstruk pemikiran seorang filsuf[1]. Di sisi lain, filsafat bukan berasal dari ketiadaan[2] serta perlu memperhatikan latar belakang sosial dan politik juga merupakan wilayah tersendiri yang memberikan landasan pijak munculnya realitas pemikiran tersebut[3].
Akan tetapi, dalam membaca akar tertentu secara intelektual terdapat konsensus untuk membicarakan wilayah seperti apa yang akan dihadapi dalam melakukan penelusuran tentang filsafat. Pembacaan pertama, secara etimologis, filsafat berasal dari bahasa Yunani merupakan gabungan dari philos (cinta atau love) dan Sophia (kebijaksanaan atau wisdom). Oleh karena itu, philosophia berarti cinta kebijaksanaan (love of wisdom) Dan kata filsafat merupakan Arabisasi, suatu mashdar yang berarti kerja atau pencarian yang dilakukan oleh filsuf[4]. Kedua, Louis Kattsoff[5] dalam Elements of Philosophy memetakan tentang filsafat adalah sebagai berikut: 1) Filsafat adalah berpikir secara kritis, 2) Filsafat adalah berpikir dalam bentuk sistematis. 3) Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang runtut. 4) Filsafat adalah berpikir secara rasional. 5) Filsafat harus bersifat komprehensif. Oleh karena itu, secara terminologis dapat dikatakan bahwa filsafat adalah berfikir secara radikal (radix), rasional, sistematis, kritis dan komperehensif sampai pada hakekat kebenarannya.
Secara historis, pemikiran filsafat berangkat dari premis-premis yang mendahuluinya. Asumsi-asumsi yang lama ditelaah kembali secara konstruktif guna mendapatkan penjabaran yang lebih memberikan cakrawa pemikiran rasional, yang dapat mewakili terhadap bangunan pemikiran pada masanya. Asumsi ini berangkat dari akar keraguan, kuriositas, ketidak puasan terhadap realitas yang sedang berlangsung, keheranan, ketakjuban Para ahli filsafat setidaknya memberikan penggambaran historisitas filsafat dalam empat periodisasi[6], yaitu Pertama, masa Yunani Kuno atau Klasik[7], ketidakpuasan terhadap penjabaran mitos menuju logos[8]. Jawaban mitologis (dari karya Homer dsb) kurang “berkenan” di hati beberapa filsuf. Sehingga pada masa ini bangunan pemikiran filsafat Yunani kuno banyak menjabarkan tentang kosmogonis (asal usul) dan kosmologis (sifat dan kejadian). Pemikirannya masih ditandai dengan pencarian prinsip atau asas pertama (arkhe) dari alam semesta. Meskipun berbicara dalam tatanan alam semesta akan tetapi perbincangan mengenai filsafat manusia menjadi perbincangan pada masa ini[9]. Kedua, munculnya agama-agama ikut mewarnai pada masa ini[10]. Sehingga pemikiran tersebut banyak dibawa oleh kaum agamawan (masa patristik)[11] dan puncaknya adalah pada pemikiran skolastika[12]. Dominansi agama sangat kentara pada masa ini dan ilmu pengetahuan sendiri tidak berkembang (dark age[13]). Filsafat dijadikan sebagai ancilla theologiae[14]. Ketiga, masa pencerahan (renaissance[15], aufklarung, enlightment) berasal dari terlalu dominansinya agama terhadap realitas dan corak pemikiran Aristotelian mulai ditinggalkan secara definitif, Kemajuan ilmu pengetahuan ikut memberi pemahaman tersendiri dengan tinjauan metode eksperimental dan matematis[16]. Sloganitas science for sake science only juga menjadikan perilaku dikhotomik antara filsafat, agama dan sains. Masa ini juga banyak bermunculan aliran-aliran besar filsafat seperti rasionalisme[17], empirisme[18], eksistensialisme[19], dan sebagainya. Keempat, filsafat kontemporer dan Logosentrisme. Perkembangan ini banyak melihat beberapa aspek yang terjadi dewasa ini. Bagaimana filsafat juga sebagai analisis kritis untuk berbagai fenomena yang sedang terjadi. Aliran-aliran juga banyak yang muncul misalnya dekonstruksionisme, post-modernisme, post- postmodernisme post strukturalisme dan beberapa perkembangan dalam filsafat ilmu. Read the rest of this entry »