Manusia, Bencana, dan Tanggungjawab Sosial

Salman Nasution *

Manusia dan Architectonic Sistem Alam

Sistem alam semesta merupakan kesatuan yang masing-masing dari bagiannya tidak dapat dipilah dan dipisahkan sebagai satu bagian yang benar-benar mandiri. Memotong dan memilahkannya berarti “menariknya keluar”, dan itu artinya menyimpangkannya dari garis “kesempurnaan ciptaan”, dan berarti cacat secara teoritis maupun praktis. Mengapa ?, karena hakikat alam ini diciptakan sebagai satu kesatuan wujud, yang memiliki kebijaksanaan, awal (mabda’), dan akhir (ma’ad). Dengan bekal ini, kita memahami bahwa manusia, dalam segenap pandangannya dalam merumuskan skema kehidupan yang bersifat prinsipil dan darinya merumuskan sesuatu (teoritik) dan cara kehidupannya (praktek) haruslah bertumpu pada kesempurnaan architectonic sistem alam ini.

Hanya pandangan dunia-lah yang “akan memberikan kita mengenai apa yang ADA, dan apa yang TIDAK ADA, ketentuan dan hukum-hukum yang menguasai alam dan manusia, hukum-hukum yang menguasai masyarakat, serta apa hakikat alam ini ?”1, kata Syahid Muthahhari. Jika pandangan dunia manusia telah ditopang oleh prinsip-prinsip berpikir semacam ini, niscaya rasio manusia akan merasa puas, karena telah memahami bahwa tatanan alam adalah tatanan yang sempurna, memiliki tujuan-tujuan yang bijaksana, diatur oleh hukum-hukum yang pasti, dan bergerak ke satu arah, yakni alam semesta adalah dari Allah dan kembali kepada-Nya.

Dalam memandang alam semesta, manusia akan mampu menangkap fenomena umum (persepsi indera) sebagai cirinya : a) terbatas, pada daerah dan kuantitas tertentu, b) berubah, maujud material semuanya berada dalam keadaan tumbuh dan berkembang, atau dalam keadaan terkikis dan berkurang, c) bergantung, setiap maujud karena adanya maujud yang lain, dan adanya maujud yang lain itu karena adanya maujud lainnnya, dan seterusnya, d) membutuhkan, sebagai konsekuensi kebergantungan, dan, e) relatif, maujud-maujud yang dapat diinderai dan dapat dikenali itu relatif, bila dilihat dari sudut asal-usul dan kesempurnaan keberadaan mereka.2

Lima ciri fenomena inderawi alam ini, sebagai bentuk pandangan partikularitas , mengantarkan kita pada kesimpulan, bahwa status ciptaan memiliki batas-batas tertentu (dengan perbedaan-perbedaannya pada kadarnya masing-masing) dan pencariannya kepada Yang Mutlak, yang tidak terbatas, tidak berubah, tidak bergantung, tidak membutuhkan, dan tidak relatif. Read the rest of this entry »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.